Kamis, 25 Agustus 2022

MANFAAT LAHAN GAMBUT

 Indonesia adalah negara dengan lahan gambut terbesar ke-2 di dunia. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal, apalagi menyayangi, gambut.

Padahal, gambut memiliki manfaat yang luar biasa. Salah satunya adalah kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah banyak. Gambut mampu menampung hingga 30 persen jumlah karbon dunia agar tidak terlepas ke atmosfer.

Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan gambut memiliki fungsi untuk mencegah perubahan iklim, bencana alam, hingga menjadi penunjang perekonomian masyarakat sekitar.

Dr. Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) pun mengajak semua pihak untuk membincangkan gambut dengan sukacita, tanpa perlu mengerutkan kening.

Dia mencontohkan pempek, makanan asal Palembang, Sumatera Selatan, yang berbahan dasar sagu.

Pohon sagu yang tumbuh di lahan gambut dan ikan gabus yang hidup di rawa atau sungai sekitar lahan gambut, ujar Myrna, merupakan kombinasi yang sangat baik dan menghasilkan pempek terlezat.

“Hal ini merupakan contoh sederhana mengapa peduli akan gambut cukup penting, bukan hanya penting bagi masyarakat setempat, tetapi juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan.” tutur Myrna dalam TalkShow Ruang Publik Peluncuran Seri Podcast Gambut Bakisah dan Pentingnya Lahan Gambut Indonesia.

Gambut juga menjadi penting bagi masyarakat yang memanfaatkan ekosistemnya karena dekat dengan perairan seperti sungai, rawa, atau laut, untuk kegiatan perikanan.

Sementara itu, lahan gambut yang tidak tebal dan dianggap relatif lebih subur, menjadi tempat bertani dan menanam tumbuhan jenis holtikutura.

“ Lahan gambut di Indonesia merupakan gambut tropis yang di dalamnya hidup berbagai jenis tanaman dan hewan mulai dari ikan, burung air, dan orang hutan,” kata Myrna.

Padahal, lahan gambut yang rusak dan kering menjadi rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Lantas jika sudah terlanjur terjadi, kebakaran di lahan gambut cukup sulit untuk dipadamkan karena api yang menyala berada di bawah tanah.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penduduk di wilayah lahan gambut itu sendiri. Asap dari karhutla yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan bisa berisiko ke daerah-daerah lain.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan gambut dari berbagai sudut pandang, Lembaga Kemitraan – the Partnership for Governance Reform pun menggelar peluncuran wadah pengetahuan pelestarian lahan gambut melalui serial podcast “Gambut Bakisah” yang diproduksi Kantor Berita Radio (KBR) Prime.

Podcast ini terdiri dari 12 seri episode yang dapat diakses melalui Spotify, KBR Prime, Anchor, dan platform podcast audio lain setiap minggu mulai dari pekan ini.

Hasbi Berliana, Direktur Sustainable Development Governance Lembaga Kemitraan, mengatakan, dalam seri episodenya, podcast ini juga mengangkat kebijakan lahan gambut dan tantangannya di tingkat desa seperti pencegahan karhutla.

“Kisah masyarakat dan inisiatif anak muda serta beragam praktik baik yang dapat menjadi contoh bagi pihak lain pun akan diangkat,” ujarnya.

Sumber : BRGM dan 

https://www.kompas.com/sains/read/2020/09/15/180900723/lestarikan-gambut-manfaatnya-bagi-manusia-begitu-luar-biasa?page=all#page2


Rabu, 24 Agustus 2022

TANAM JAGUNG DI LAHAN GAMBUT SANGAT SUBUR

Diungkapkan Kepala BPPT, Biopeat akan membakar keasaman tanah gambut sehingga bisa digunakan untuk menanam berbagai jenis tumbuhan. Selain itu, Biopeat juga mengandung unsur pupuk yang dapat membuat buah yang dihasilkan lebih manis dibanding tidak menggunakan Biopeat.

"Ini solusi kalau mau menanam enggak usah dibakar tapi dengan menaburkan Biopeat. Masalah kebakaran lahan gambut, dengan adanya diseminasi ini, bisa jadi satu solusi. Masyarakat butuh untuk kehidupan ekonomi lebih baik,"  paparnya.


Kepala BPPT lantas optimis bahwa inovasi biopeat bisa diterapkan di daerah lainnya, termasuk Kalimantan yang memiliki banyak lahan gambut yang belum dapat dimanfaatkan.


"Biopeat siap dikomersilkan.  BPPT sedang mengurus sertifikasi penggunaannya agar sesuai dengan standar tersendiri," pungkasnya.
 
 
Di tempat yang sama, Bupati Indragiri Hilir HM Wardan menyebut bahwa pihaknya sangat mengapresiasi inovasi biopeat. Hal ini imbuhnya, sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk dapat mengolah lahan gambut.
 
 
"Biasanya sabut kelapa hanya menjadi limbah dan busuk, dibiarkan begitu saja. Dengan biopeat lahan gambut bisa jadi subur dan ditanami sayur dan buah," katanya.
 
 
Seorang petani lokal, Ramli mengatakan bahwa  dengan biopeat ini dia tidak perlu membakar lahan untuk mencari abu agar gambut bisa ditanami. 
 
 
Bahkan diakui, lahan yang dikelola olehnya sudah ditanami dengan sayur mayur, seperti bawang, jagung, terong dan lainnya. 
 
 
"Sudah panen semua. Hasil panen nya pun sudah laku dijual ke sekitar Riau. Pembeli datang sendiri katanya. Sayur pun bagus hasil biopeat ini," bangganya.
 
 
Lebih lanjut Direktur PT RSUP, Tay Ciatung mengatakan pihaknya terus melakukan inovasi-inovasi baru, agar industrinya terus mumpuni. Inovasi Biopeat digunakan untuk memberdayakan masyarakat dalam memanfaatkan lahan gambut.
 

"Ini kontribusi kami untuk masyarakat, bentuk sosial kami," tutupnya. (Humas/HMP)

Selasa, 23 Agustus 2022

PETANI SUKSES MENAMAN CABAI DI LAHAN GAMBUT

 JawaPos.com- Berbeda dengan petani lain, keputusan Badri mengolah lahan gambut terbilang berani. Saat kebanyakan orang menanam sawit, pria berusia 41 tahun itu sukses bercocok tanam cabai.

Warga Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak, Riau, ini sudah menanam cabai merah selama setahun belakangan. Usahanya tak sia-sia, bahkan ia mendapatkan keuntungan yang terbilang besar dari memelihara tanaman holtikultura ini Berbeda dari sawit, Badri tak perlu menunggu waktu dua minggu untuk memanennya. Cabai yang ditanam dari hasil jerih payahnya ini bisa dipanen setiap tiga atau empat hari sekali.

Dalam sekali panen, Badri pernah mendapat hampir setengah ton cabai merah di lahan seperempat hektare olahannya. “Dikalikan saja, satu kilo harga cabai normal Rp 36 ribu. Waktu itu empat kuintal lebih hasil panen cabainya,” cerita Badri kepada wartawan saat ditemui di Siak, Kamis siang (7/2).

Awal mula Badri memutuskan menanam cabai, banyak petani lain tak percaya dengannya. Namun berkat pengetahuan dari Sekolah Lapang BRG, dia menjadi tahu karekteristik tanah gambut.

“Inti bertani itu tahu karekteristik tanah, kalau gambut misalnya ada yang perlu dilakukan. Namun jangan sampai keasamannya hilang, yang perlu itu keseimbangan,” sebut Badri.

Untuk menanam cabai di lahan gambut tidaklah mudah dan sembarangan. Butuh pengetahuan agar hasilnya bisa memuaskan. Hal penting yang dibutuhkan adalah mengetahui tingkat keasaman pada permukaannya.

Keasaman itu perlu diturunkan dengan cara murah dan bahan mudah didapat. Salah satunya adalah pohon pisang. Hasil cacahan pohon disebar di lahan yang akan ditanam. Tingkat keasaman akan ketahuan, baik diukur dengan memakai alat maupun menanam tanaman lain.

“Dulu saya tanam sawi, kalau sudah hijau berarti tingkat keasaman tidak tinggi lagi. Kalau daunnya masih kuning, berarti masih tinggi, kalau sawinya hijau, barulah bagus, lalu ditanam cabai. Inilah hasilnya, bisa dilihat,” jelasnya.

Kini, ratusan batang cabai di lahan Badri sudah berusia setahun. Dia menyebut sudah saatnya diganti dengan yang baru karena akan menyebabkan biaya lebih besar jika masih dipertahankan.

Menurutnya, pohon cabai berumur setahun masih bisa berproduksi tapi hasilnya tentu saja tidak memuaskan. Apalagi saat musim kemarau. Sebab butuh disemprot ekstra agar buahnya tidak berulat atau mengering.

“Kalau sekarang tinggal diganti karena tanah ini sudah teruji, asamnya sudah tidak tinggi. Hanya perlu membersihkan buah cabai yang jatuh ke tanah agar tak jadi bakteri,” kata Badri.

Sejak keberhasilannya bertanam cabai mulai tersiar, banyak petani yang berdatangan ke lahannya. Mereka ingin belajar bagaimana gambut bisa ditanam cabai tanpa harus membakar dulu. “Tanpa membakar, asamnya bisa dikurangi. Jangan sampai hilang karena kesuburannya juga akan ikut hilang,” tuturnya.

Badri menekankan tanaman holtikultura di gambut lebih menjanjikan daripada sawit maupun tanaman lainnya. Dia sudah membuktikan hal tersebut. Bahkan hasil dari cabai ini membuat dirinya sampai jalan-jalan ke Bangkok, Thailand.

“Ini sangat menjanjikan, potensial. Sudah ada yang belajar, kalau dulu orang belum percaya karena mengganggap saya sebagai petani baru,” tutupnya.


Sumber : Jawapos.com

Editor : Dida Tenola

Reporter : Virda Elisya

Senin, 22 Agustus 2022

LAHAN GAMBUAT PONTENSIAL MENJADI KEBUN KELAPA SAWIT

 JAKARTA. Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Winarna mengungkapkan lahan gambut memiliki potensi yang baik untuk dimanfaatkan bagi pengembangan kelapa sawit.


Dari hasil penelitian diketahui potensi kelapa sawit padai berbagai tipe gambut cukup tinggi antara 12-27 ton ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare pertahun, katanya, di Jakarta, Kamis (15/3).

Sedangkan rata-rata rendemen minyak sawit berkisar antara 21-23 persen atau 2 persen lebih rendah dibandingkan tanah mineral. "Tanaman kelapa sawit juga toleran terhadap sifat-sifat gambut," katanya dalam seminar "Lahan Gambut: Maslahat atau Mudharat?" yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan).

Dikatakannya, saat ini sekitar 20 juta hektar lahan gambut tersebar di Indonesia terutama di Sumatra dan Kalimantan. Dari luasan tersebut, lanjutnya, baru sekitar 700-800 ribu ha  yang dimanfaatkan untuk budidaya kelapa sawit dari total luas perkebunan kelapa sawit Indonesia 7,8 juta ha.

Winarna mengakui, pemanfaatan lahan gambut untuk kelapa sawit memiliki berbagai kendala terkait sifat-sifat gambut yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman.

"Oleh karena itu diperlukan penerapan 'best management practices' untuk pengembangan kelapa sawit di gambut yang berkelanjutan," katanya.

Menurut dia, tata air yang efektif merupakan kunci memperoleh produktivitas kelapa sawit yang tinggi pada lahan gambut. Selain itu, lanjutnya, harus didukung infrastruktur jalan dan jembatan, pemupukan serta kultur teknis standar.

Guru Besar Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultan Pertanian IPB, Prof Dr Supiandi Sabiham menyatakan, optimalisasi pengembangan kebun dan industri minyak sawit pada lahan gambut telah memberikan kesempatan kerja sebanyak satu orang per empat hektare.

Dengan demikian, lanjutnya, dari 1,2 juta hektare perkebunan kelapa sawit mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 300 ribu orang, belum termasuk untuk lapangan pekerjaan penunjangnya.

"Selain itu pengembangan pertanian di lahan gambut telah memberikan sumber pendapatan yang cukup signifikan khususnya dari sayuran dan buah-buahan serta tanaman perkebunan terutama kelapa sawit," katanya.

Dikatakannya, dari luasan lahan gambut sekitar 15 juta hektare sektiar 9 juta hektare sesuai syarat untuk usaha pertanian. Namun demikian, lanjutnya, yang sudah dibuka dan dikembangkan baru sekitar 0,5 juta hektare untuk tanaman pangan yang dikelola petani transmigran serta 1,2 juta hektare untuk perkebunan khususnya kelapa sawit.

DIKUTIP DARI MEDIA INDONESIA, KAMIS, 15 MARET 2012 dan dinas perkebunan provinsi kalimantan timur

Minggu, 21 Agustus 2022

GAMBUT TERTUA DI TEMUKAN DI PEDALAMAN KALIMANTAN

 Sekelompok peneliti menemukan lahan gambut tropis tertua di dunia. Lahan tersebut ditemukan di Pulau Kalimantan, Indonesia. Tepatnya, di sebuah situs pedalaman di utara Kota Putussibau, Kalimantan Barat.

Menurut hasil penanggalan karbon, lahan gambut purba itu setidaknya telah terbentuk sejak 47.800 tahun lalu. Umur ini jauh lebih tua bahkan dua kali lipat lebih tua dari yang tim peneliti perkirakan sebelumnya.

Lahan gambut ini juga memiliki lapisan yang sangat dalam, yakni 18 meter. Itu setara dengan tinggi bangunan enam lantai.

Laporan mengenai temuan ini telah dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah Environmental Research Letters pada akhir 2020 lalu. Penemuan ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari University of Oregon, Amerika Serikat. Peneliti utama dalam riset ini adalah Monika Ruwaimana, mahasiswi doktoral dari University of Oregon yang juga merupakan dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Monika Ruwaimana menjelaskan bahwa dalam penelitian ini timnya mengambil sampel tanah dari dua lokasi daratan dan tiga pantai yang terhubung dengan Sungai Kapuas di provinsi Kalimantan Barat untuk mereka teliti. “Kami mempelajari lahan gambut, sejenis tanah yang terbuat dari bahan organik seperti kayu dan daun,” kata Monika seperti dikutip dari laman resmi University of Oregon.

“Bahan tanaman mati ini terawetkan dengan baik di dalam tanah dan terus menumpuk karena permukaan air yang tinggi mencegah pembusukannya,” jelas Monika. “Biasanya kedalaman lahan gambut hanya beberapa meter, tapi lahan gambut yang kami temukan ini jauh lebih dalam.”

Zaman es atau periode glasial adalah periode ketika suhu bumi turun drastis selama bertahun-tahun atau dalam jangka waktu sangat lama sehingga menyebabkan peningkatan jumlah pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Menurut para ahli, periode glasial terjadi berulang kali dengan diselingi masa-masa yang lebih hangat yang disebut sebagai masa interglasial. Adapun zaman es terakhir adalah priode glasial terakhir yang diperkirakan berlangsung antara 110.000 tahun hingga 10.000 tahun lalu.

Berdasarkan ketebalan lahan gambut yang ditemukan ini, Monika Ruwaimana menyimpulkan bahwa situs Putussiba tidak begitu terganggu oleh deforestasi dan koversi lahan seperti kebanyakan daerah lain di Indonesia.

“Kami pikir lapisan situs Putussibau akan lebih tipis karena orang sudah membangun jalan di atasnya,” ujarnya. “Tapi yang mengejutkan, kami menemukan kedalaman 17 hingga 18 meter. Sebagai perbandingan, rata-rata kedalaman lahan gambut di Indonesia adalah 5 sampai 6 meter."

Sabtu, 20 Agustus 2022

11. JENIS TANAMAN OBAT TRADISIONAL

 1. Daun Kemangi

Salah satu fungsi daun kemangi adalah untuk menetralisir racun yang mungkin saja terbawa pada makanan tersebut terutama makanan yang dibakar. Meskipun mudah dijumpai di rumah makan, kemangi ternyata menjadi jenis tanaman toga yang dapat di tanam di rumah.

Khasiat lain dari kemangi antara lain: memperkuat sistem kekebalan tubuh, menambah stamina pria terutama sel sperma, mencegah kemandulan, sebagai antiseptik alami, memperbaiki fungsi hati, mencegah ejakulasi dini, dan mencegah bau badan.

Selain itu, kemangi dapat memperlancar asi, menurunkan kadar gula darah, mencegah tulang keropos, dan menghilangkan jerawat. Untuk mencegah dan mengobati seperti beberapa gangguan kesehatan yang sudah disebutkan secara efektif adalah dengan mengkonsumsinya menjadi lalapan.

2. Kumis Kucing

Tanaman ini anggota dari suku Lamiaceae. Disebut kumis kucing karena bunganya mirip bulu kucing yang berwarna putih. Tanaman ini wajib ada di halaman rumah kamu sebagai pelengkap jenis tanaman toga. Kenapa demikian? Dari segi manfaatnya tanaman ini bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit asam urat. Hal ini karena kumis kucing mengandung zat orthosiphonin, glikosida, dan diuretik.

Khasiat kumis untuk kesehatan mampu mengobati infeksi ginjal, infeksi kandung kemih, sakit kencing batu, encok, peluruh air seni, menghilangkan panas dan lembab.

Manfaatkan pekarangan kosong semaksimalnya dengan tanaman toga yang punya manfaat besar bagi kesehatan. Pasalnya, suatu saat dipastikan ini akan sangat bermanfaat sekali.

Dengan menggunakan beberapa tanaman toga tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya berobat. Seperti halnya ketika batuk melanda tak perlu pergi berobat cukup pergi ke pekarangan rumah untuk mengambil tanaman dan membuat ramuannya.

3. Jahe

Jahe adalah anggota suku Zingiberaceae. Merupakan tanaman herba semusim, tegak, tinggi 40-50 cm. Ada tiga jenis jahe yaitu gajah, emprit, dan merah. Jahe merupakan komoditas pertanian yang memiliki peluang dan prospek yang cukup baik untuk dikembangkan di Indonesia.Banyak dijajakan di penjual angkringan.

Jahe mengandung minyak atsiri zingiberena, sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan. Khasiatnya untuk mengatasi batuk, membangkitkan nafsu makan, mulas, sakit kepala, dan perut kembung. Melihat manfaatnya yang besar, tentu jahe dapat dijadikan referensi jenis tanaman toga.

4. Jintan Hitam

Tanaman jintan hitam atau seringkali dikenal sebagai habbatussauda mempunyai manfaat yang baik bagi tubuh. Dilansir dari Alodokter, tanaman jintan hitam sangat membantu dalam proses pengobatan diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi hingga mengurangi kemungkinan untuk terserang kanker.

5. Kunyit

Salah satu rempah yang paling sering digunakan untuk bumbu masak ini mempunyai manfaat yang luar biasa bagi tubuh. Kunyit mempunyai kandungan yang bisa mengencerkan darah dan menghancurkan kolesterol yang ada pada tubuh Anda.

6. Kencur

Kencur sangat disukai karena baunya yang khas dan bisa diolah menjadi minuman beras kencur yang sangat menyegarkan. Kencur bisa dimanfaatkan sebagai obat herbal yang ampuh karena bisa meredakan flu dan batuk sekaligus menyegarkan saluran pernapasan Anda

7. Lidah Buaya

Lidah buaya mempunyai rasa yang menyegarkan dan seringkali dicampurkan ke dalam minuman untuk menambah keunikan dari rasa minumannya. Tanaman lidah buaya mempunyai manfaat yang baik untuk kulit dan mampu untuk mencegah penuaan dini. Selain itu juga, tanaman lidah buaya bisa menjadi obat yang tepat bagi para penderita diabetes.

8. Daun Seledri

Apabila Anda mempunyai masalah tekanan darah tinggi maka Anda bisa mengonsumsi daun seledri dengan mencampurkannya pada makanan Anda. Tanaman daun seledri terbukti ampuh dalam menurunkan tekanan darah dan tensi bagi orang yang menderita hipertensi

9. Daun Kelor

Daun kelor merupakan salah satu tanaman herbal yang banyak dipakai sebagai bentuk pengobatan kanker dan mencegah agar Anda tidak mudah untuk terserang penyakit. Daun kelor ini meskipun cukup sulit untuk ditemui namun manfaatnya tidak bisa dibandingkan dengan tanaman herbal yang lainnya.

10.  Alpukat

Buah alpukat mempunyai rasa yang segar dan manis. Selain rasanya yang nikmat, ternyata buah alpukat juga mempunyai banyak manfaat bagi tubuh. Beberapa manfaat dari mengonsumsi buah alpukat secara rutin adalah mampu untuk mencegah penyakit jantung dan bisa mengurangi risiko terserang diabetes.

11. Belimbing

Apabila Anda mempunyai masalah terhadap berat badan maka Anda bisa secara rutin mengonsumsi buah belimbing. Tidak hanya itu saja, buah belimbing juga bisa untuk mengendalikan kadar gula darah dan mencegah penyakit diabetes datang sejak dini

Gambut Menyimpan Beragam Manfaat Bagi Manusia dan Patut Dilestarikan

 Indonesia adalah negara dengan lahan gambut terbesar ke-2 di dunia. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal, apalagi menyayangi, gambut.

Padahal, gambut memiliki manfaat yang luar biasa. Salah satunya adalah kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah banyak. Gambut mampu menampung hingga 30 persen jumlah karbon dunia agar tidak terlepas ke atmosfer.

Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan gambut memiliki fungsi untuk mencegah perubahan iklim, bencana alam, hingga menjadi penunjang perekonomian masyarakat sekitar.

Dr. Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) pun mengajak semua pihak untuk membincangkan gambut dengan sukacita, tanpa perlu mengerutkan kening.

Dia mencontohkan pempek, makanan asal Palembang, Sumatera Selatan, yang berbahan dasar sagu.

Pohon sagu yang tumbuh di lahan gambut dan ikan gabus yang hidup di rawa atau sungai sekitar lahan gambut, ujar Myrna, merupakan kombinasi yang sangat baik dan menghasilkan pempek terlezat.

“Hal ini merupakan contoh sederhana mengapa peduli akan gambut cukup penting, bukan hanya penting bagi masyarakat setempat, tetapi juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan.” tutur Myrna dalam TalkShow Ruang Publik Peluncuran Seri Podcast Gambut Bakisah dan Pentingnya Lahan Gambut Indonesia.

Gambut juga menjadi penting bagi masyarakat yang memanfaatkan ekosistemnya karena dekat dengan perairan seperti sungai, rawa, atau laut, untuk kegiatan perikanan.

Sementara itu, lahan gambut yang tidak tebal dan dianggap relatif lebih subur, menjadi tempat bertani dan menanam tumbuhan jenis holtikutura.

“ Lahan gambut di Indonesia merupakan gambut tropis yang di dalamnya hidup berbagai jenis tanaman dan hewan mulai dari ikan, burung air, dan orang hutan,” kata Myrna.

Padahal, lahan gambut yang rusak dan kering menjadi rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Lantas jika sudah terlanjur terjadi, kebakaran di lahan gambut cukup sulit untuk dipadamkan karena api yang menyala berada di bawah tanah.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penduduk di wilayah lahan gambut itu sendiri. Asap dari karhutla yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan bisa berisiko ke daerah-daerah lain.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan gambut dari berbagai sudut pandang, Lembaga Kemitraan – the Partnership for Governance Reform pun menggelar peluncuran wadah pengetahuan pelestarian lahan gambut melalui serial podcast “Gambut Bakisah” yang diproduksi Kantor Berita Radio (KBR) Prime.

Podcast ini terdiri dari 12 seri episode yang dapat diakses melalui Spotify, KBR Prime, Anchor, dan platform podcast audio lain setiap minggu mulai dari pekan ini.

Hasbi Berliana, Direktur Sustainable Development Governance Lembaga Kemitraan, mengatakan, dalam seri episodenya, podcast ini juga mengangkat kebijakan lahan gambut dan tantangannya di tingkat desa seperti pencegahan karhutla.

“Kisah masyarakat dan inisiatif anak muda serta beragam praktik baik yang dapat menjadi contoh bagi pihak lain pun akan diangkat,” ujarnya.

Sumber : brgm.go.id

https://www.kompas.com/sains/read/2020/09/15/180900723/lestarikan-gambut-manfaatnya-bagi-manusia-begitu-luar-biasa?page=all#page2

Rabu, 08 Desember 2021

POHON AREN SEJUTA MANFAAT


 Ekspansi perkebunan sawit membawa dampak positif terhadap kehidupan sosio-ekonomi masyarakat. Salah satunya mengubah pola pencarian nafkah petani dan meningkatnya kualitas pendidikan masyarakat sekitar. Namun, ekspansi lahan yang tidak terkendali juga berdampak pada lingkungan, salah satunya deforestasi lahan baik di gambut maupun di tanah mineral yang dapat meningkatkan emisi karbon di udara serta menipisnya ketersediaan air tanah.

Karena itu kita perlu Adanya gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan oleh pemerintah maupun stakeholder ditingkat daerah, kecamatan sampai desa dapat mempergunakan tanaman aren yang ditumpangsarikan dengan tanaman kayu maupun tanaman buah untuk program konservasi dan reboisasi untuk mengimbangi perluasan lahan perkebunan sawit yang banyak melakukan deforestasi yang mengakibatkan cadangan air tanah semakin berkurang.
Dengan sifatnya yang banyak menyimpan air dapat menyuburkan pohon dan tanaman lainya yang ada dibawah atau disekitarnya, pohon aren dijadikan tanaman perintisan pada lahan-lahan gundul. Pohon aren akan tetap tumbuh dan tetap memberikan nilai ekonomi meskipun nantinya telah tertutupi oleh pohon lainnya yang tumbuh menyusul, karena pohon aren memiliki batas ketinggian dan akan selalu tumbuh dan mati setelah mencapai umur dan ketinggian tertentu

pohon aren tumbuh baik  mulai dari  ketinggian 9m- 1400 dpl (terbaik di ketinggian 500-800 m dpl),  Baiknya tanaman aren tidak dibudidayakan pada lahan produktif, akan tetapi diutamakan untuk ditanam pada lahan-lahan marginal, kurang subur. Misalnya lahan yang memang terlantar atau tidak diusahai, lahan tidur dalam jangka waktu yang sangat lama. Lahan yang karena kondisi topografinya yang berbukit, kemiringan tinggi  atau terjal atau ditanam dekat dengan batas lahan milik, di pinggir daerah aliran sungai. Jika pertimbangan ekonomisnya lebih baik ditamani kopi atau tanaman lain, maka tanaman aren ini dapat ditanami sebagai tanaman pinggir, tanaman penyangga longsor tebing curam, atau sebagai tanaman tapal batas.

Pohon aren dapat pula ditumpangsarikan dan hidup berdampingan dengan pohon lain. Aren dapat bertumbuh subur di tengah perkebunan kopi, atau diselilingi pohon kayu hutan, tanaman buah yang sekaligus  untuk tujuan investasi. Aren yang dikombinasikan dengan tanaman kayu huta atau buah dapat dianggap sebagai tanaman investasi kelak. Aren adalah jenis pohon yang ramah lingkungan. Dengan akarnya sedalam enam sampai delapan meter sangat efektif menarik dan menahan air. Oleh karenanya aren dapat tumbuh baik di dataran, lereng bukit, dan gunung

Dari berbagai riset  menyatakan bahwa tanaman Aren bernilai ekonomis tinggi dan berpotensi dikembangkan.  Hampir semua bagian pohon Aren bisa dimanfaatkan. Selain untuk dikonsumsi (seperti nira dan buah), produk pohon Aren dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak (batangnya) untuk atap rumah (daunnya) sampai perlengkapan rumah tangga lainnya. Kisaran harga Gula Aren (gula merah) yang diproduksi Pabrik Gula Aren  serta diekspor ke berbagai negara itu, sudah mencapai Rp. 96 Ribu Rupiah per kilogram (bandingkan dengan Karet yang hanya Rp 6 Ribu Rupiah). Belum lagi, jika nira Aren difermentasi, akan menghasilkan ethanol. Ethanol digunakan berbagai negara maju sebagai bahan bakar kendaraan bermotor pengganti bensin. Dengan membudidayakan Aren, terbuka juga lapangan pekerjaan, baik petani Aren itu sendiri, dan karyawan (jika telah dibangun pabrik Aren). Hebatnya lagi, mengkonsumsi gula Aren dapat memperpanjang angka harapan hidup sampai 12 Tahun.

Pohon aren dapat dikatakan tanaman perkebunan multiguna karena dimanfaatkan, baik berfungsi sebagai konservasi, maupun fungsi produksi yang menghasilkan berbagai komoditi yang mempunyai nilai ekonomi. Fungsi konservasi lahan dengan perakarannya yang dangkal dan melebar akan sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya erosi tanah. Demikian pula dengan daun yang cukup lebat dan batang yang tertutup dengan lapisan ijuk, akan sangat efektif untuk menahan kekuatan atau energi dari turunnya air hujan yang langsung ke permukaan tanah. Keuntungan lain dalam pengembangan jenis ini, tanaman aren tidak membutuhkan pemupukan yang intensif dan tidak terserang hama ataupun penyakit yang mengharuskan penggunaan pestisida sehingga aman bagi lingkungan

Pohon aren dapat pula ditumpangsarikan dan hidup berdampingan dengan pohon lain. Aren dapat bertumbuh subur di tengah perkebunan kopi, atau diselilingi pohon kayu hutan, tanaman buah yang sekaligus  untuk tujuan investasi. Aren yang dikombinasikan dengan tanaman kayu huta atau buah dapat dianggap sebagai tanaman investasi kelak. Aren adalah jenis pohon yang ramah lingkungan. Dengan akarnya sedalam enam sampai delapan meter sangat efektif menarik dan menahan air. Oleh karenanya aren dapat tumbuh baik di dataran, lereng bukit, dan gunung.

 

Aren sebagai Pelestari Alam dan Pencegah Banjir

1. Pohon Aren memiliki kemampuan menahan terlama dan terbanyak volume air hujan di atas pohon, saat hujan (setiap batang pelepah daun bisa menahan 1-2 liter selama beberapa jam, pada umur 5-7 tahun memiliki pelepah dari pangkal batang sampai ke ujung pohon) sehingga memberikan waktu yang panjang untuk tanah di bawah pohon untuk dapat menyerap lebih banyak air, dan dengan sendirinya akan menyimpan air tanah yang paling banyak (penelitian sementara para profesor dan para peneliti geologist, Pohon Aren bisa menyimpan / menyerap 200 liter air – 10 galon minyak atau galon Aqua). Tak dipungkiri, ini berperan mencegah banjir.dengan kapasitas jaringan parenkim dan volume tubuhnya yang cukup besar untuk dapat menampung air. Adanya kutikula dan lilin akan menurunkan laju transpirasi sehingga air dapat tertampung dengan waktu yang lama. Sementara sistem perakaran yang kuat dan panjang hingga mencapai kedalaman 15 meter dapat memberikan kestabilan pada tanah, sehingga dapat mencegah erosi dan longsor

2. Bukan hanya menahan air, Pohon Aren sangat efektif menahan tanah. Ini karena Pohon Aren sangat dalam menancap di tanah (padahal untuk menanamnya gampang, dilempar saja bibit, apalagi di daerah tebing). Di Minahasa telah terbukti, sewaktu banjir dan tanah longsor melanda wilayah itu akhir Tahun 2000 lalu. Lokasinya teramati di Kecamatan Motoling Minahasa Selatan. Ada satu tebing di sebelah jalan, semuanya longsor, kecuali bagian tebing yang ada rumpun Pohon Aren. Jelas bahwa Pohon Aren kuat dan tegar menahan banjir dan tanah longsor.

3. Dengan sifatnya yang banyak menyimpan air, jelas dapat menyuburkan pohon atau tanaman lain yang ada di bawahnya atau disekitarnya. Jadi Pohon Aren dapat dijadikan tanaman perintis pada lahan gundul. Pohon Aren akan tetap tumbuh dan memberikan nilai ekonomis, meskipun nantinya telah tertutup dengan pohon lain yang tumbuhnya menyusul. Karena, Pohon Aren memiliki batas ketingian dan akan selalu tumbuh dan mati setelah mencapai umur ketinggian tertentu.

4. Dikatakan juga bahwa jika daerah yang banyak ditumbuhi oleh tanaman aren, akan muncul mata air mata air sebagai sumber air bagi masyarakat.

 

Prospek produksi gula dari nira aren sangat menggiurkan. Mari kita hitung: setiap 5-7 liter nira bisa menghasilkan 1 kg gula merah. Kalau setiap pohon aren menghasilkan 10-15 liter nira, berarti setiap pohon aren bisa menghasilkan antara 2-3 kg gula merah per hari. Kalau pohon aren ditanam secara intensif, misalnya dengan jarak tanam 5 x 10 meter persegi, untuk satu hektare lahan akan berisi sekitar 200 pohon aren. Seandainya hanya 50 persen saja yang bisa menghasilkan nira dan dikelola, maka akan didapat 50% x 200 pohon per hektare x 2-3 kg per pohon per hari; yaitu antara 200-300 kg gula aren untuk satu hektare kebun per hari. Jika harga gula aren Rp10.000 per kg (untuk gula aren grade A bahkan mencapai Rp15.000), maka dari lahan satu hektare bisa menghasilkan antara Rp2 juta sampai Rp3 juta setiap harinya. Setahunnya, bisa mencapai 1 miliar! Menggiurkan, bukan?

Itu baru dari gula. Nira aren juga sangat berpotensi sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil yang terus disedot dan bisa habis. Nira aren bisa diolah menjadi bioetanol. Serabut-serabut yang terdapat di tubuh pohon aren juga bernilai ekonomis. Rambut-rambut hitam yang dinamakan ijuk ini bisa dibuat menjadi alat pembersih (sapu, sikat), tali, peredam suara studio, bantalan lapangan bola, pembungkus kabel bawah laut, tempat memijah ikan, dan kerajinan tangan yang beraneka. Buah pohon aren yang biasa disebut kolang-kaling juga bukan makanan yang asing. Buah berbentuk bulat sebesar biji salak dan berwarna putih transparan ini selalu muncul di bulan puasa, sebagai minuman yang menyegarkan saat berbuka.Batang pohon aren juga bisa dimanfaatkan. Sagu aren didapat dari batang pohon aren bagian dalam. Bagian luar yang sudah tua yang keras bisa dibuat untuk kayu bahan mebel dan aneka peralatan dari kayu yang tidak kalah dibandingkan dengan kayu lain

 

Oleh: Reinnaas Amsyari Gunawan, S.TP

Penyuluh Pertanian Wilayah Binaan Alahan Nan Tigo

 

Daftar Pustaka
kebunaren.blogspot.com/2014/12/analisis-pohon-aren-untik-mencegah

arenindonesia.wordpress.com/artikel-aren/

harian.analisadaily.com/lingkungan/news/pohon-aren-investasi-dan-konservasi-lahan

Pohon Gelam Atau Penghasil Minyak Kayu Putih Yang Kaya Manfaat banyak hidup di lahan gambut

 

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa minyak putih merupakan minyak yang dihasilkan dari pohon kayu putih atau pohon gelam. Tapi belum banyak yang tahu bagaimana sebenarnya bentuk dari pohon kayu putih tersebut. Karena biasanya kita membeli langsung minyak kayu putih di toko atau di minimarket.

Minyak kayu putih merupakan salah satu obat yang umumnya banyak dimiliki di masyarakat indonesia. Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari minyak kayu putih ini, misalnya baik untuk pernafasan, bermanfaat untuk kesehatan kulit, dapat meredakan nyeri otot, meredakan mual perjalanan atau dapat menghindari gigitan serangga.

Manfaat tersebut didapatkan karena kandungan yang dimiliki oleh minyak kayu putih. Minyak kayu putih memiliki aroma yang khas dan rasa hangat ketika dioleskan kekulit. Banyak ibu-ibu yang menggunakan minyak kayu putih untuk membuat sang anak merasa hangat. Penggunaan minyak kayu putih biasanya bisa dengan dioleskan ke bagian tertentu seperti perut dan punggung, ataupun dengan cara dihirup.

Pohon minyak kayu putih atau juga disebut dengan pohon gelam merupakan tumbuhan yang sangat baik tumbuh di Indonesia bagian timur, atau juga di beberapa daerah yang memiliki musim kemarau yang tetap. Kayu putih atau gelam ini merupakan jenis tumbuhan yang termasuk pada suku jambu-jambuan, memiliki nama latin Melaleunca Leucadendra. Berikut ini penjelasan singkat mengenai bagian bagian dari pohon kayu putih.

Batang

Ketinggian Pohon minyak kayu putih bisa mencapai 10-20 meter. Dengan kulit yang berlapis-lapis. Batang pohon yang dimiliki tidak terlalu besar dengan warna putih yang sedikit keabu-abuan. Hanya sedikit percabangan yang dimiliki oleh pohon kayu putih ini.

Daun

Bentuk daun dari kayu putih adalah lonjong dan merupakan daun tunggal dengan tangkai pendek. Lebarnya mencapai 0,75 sampai 4 cm, sedangkan panjangnya 4,5-25 cm. pangkal daun kayu putih sedikit runcing, selain itu daun kayu putih juga memiliki sedikit bulu di permukaan daun. Warna dari daun kayu putih adalah hijau muda. Nah di daun ini lah minyak kayu putih dihasilkan.

Bunga

Kayu putih memiliki bunga seperti lonceng dengan warna putih. Tetapi pada kepala putih nya memiliki warna kuning.

Buah

Pohon kayu putih juga memiliki buah, buah ini lah yang dikenal dengan nama gelam. Bentuknya kecil dan terdapat lubang di tengahnya. Dalam satu tangkai bisa terdapat 20-30 buah.

Nah itu dia bagian-bagian dari pohon kayu putih. Selama ini kita hanya mengetahui minyak kayu putihnya saja, karena pohon kayu putih hanya terdapat dibeberapa daerah saja. Semoga tulisan ini membantu mengenal pohon kayu putih.

Minggu, 28 November 2021

JAGUNG, KEDELAI, KACANG TANAH PALAWIJA YANG HIDUP DI LAHAN GAMBUT

 Memilih Lokasi dan Komoditas Palawija dapat ditanam pada lahan yang tidak tergenang air, yaitu lahan tegalan, guludan surjan, dan pada lahan sawah (di musim kemarau) yang piritnya tidak dangkal. Air di lahan sawah atau tabukan surjan, terutama di rawa lebak, umumnya menyusut di musim kemarau, sehingga bisa ditanami palawija. Tanaman palawija (kecuali singkong) sebaiknya tidak ditanam pada lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 150 cm karena lahan gambut tersebut mudah kering dan tidak subur sehingga banyak membutuhkan biaya. Hampir semua jenis palawija dapat ditanam di lahan gambut yang telah direklamasi, asal iklimnya sesuai. Tanaman palawija yang sering dibudidayakan di lahan gambut, antara lain adalah jagung, kacang tanah, kedelai, ubikayu/ singkong, dan ubijalar. Tanaman singkong bahkan tumbuh cukup baik pada lahan gambut tebal, dimana tanaman lain belum bisa tumbuh tanpa adanya bahan amelioran. Komoditas ini sering ditanam sebagai pemula bagi penanaman tanaman lainnya karena dapat mempercepat pematangan dan pemadatan gambut. Singkong, sebaiknya hanya ditanam pada lahan guludan atau tegalan, karena umurnya relatif panjang. Tanaman ubijalar dapat beradaptasi di lahan sulfat masam tanpa pengapuran. Hal yang perlu dicermati dalam memilih komoditas adalah pemasaran. Pemasaran penting mengingat lahan rawa umumnya terletak jauh dari kota dan sarana transportasinya relatif lebih mahal. Oleh sebab itu, pilihlah yang betulbetul laku dijual, menguntungkan, dan disarankan untuk menanam lebih dari satu jenis tanaman secara tumpangsari atau dengan sistem lorong

Memilih Varietas Beberapa varietas kacang tanah, kedelai, dan jagung yang terbukti tumbuh baik di lahan rawa bisa dilihat pada Tabel 1. Hingga saat ini, penelitian varietas singkong dan ubi jalar di lahan rawa belum banyak dilakukan. Namun dari pengamatan di beberapa daerah, belum ditemukan adanya varietas yang tidak sesuai. Hanya saja, karena umur singkong yang panjang, sebaiknya dipilih yang berumur pendek (7-8 bulan) seperti gading, muara, dan adira; untuk menghindari kebanjiran. Varietas unggul lokal sangat dianjurkan untuk digunakan. Untuk tahap pertama, benih harus dibeli atau diambil dari sumber benih yang dapat dipercaya, seperti PT Pertani, Dinas Pertanian setempat, toko-toko pertanian atau KUD, supaya mutu dan varietasnya betul-betul terjamin. Benih yang berkualitas biasanya dijual dengan disertai sertifikat/label yang dikeluarkan oleh Balai Benih. Untuk tahap selanjutnya, bisa digunakan benih dari hasil panen sendiri hingga 3-4 kali musim tanam.

Waktu dan Pola Tanam Pada dasarnya, palawija dapat ditanam kapan saja asal diperkirakan tidak akan kebanjiran dan kekeringan, serta hasilnya laku dan menguntungkan bila dijual. Khusus untuk kedelai, sebaiknya tidak ditanam secara besar-besaran menjelang musim hujan jika tidak tersedia vasilitas pengering buatan. Kedelai yang tidak segera dikeringkan sehabis panen akan mudah membusuk. Pada lahan tegalan dan guludan surjan, palawija dapat ditanam sepanjang tahun asal airnya mencukupi. Pada lahan sawah di lebak dangkal, palawija umumnya ditanam pada akhir musim hujan sehabis panen padi. Jika tersedia air irigasi atau air hujannya mencukupi, setelah panen palawija pertama dapat dilajutkan dengan tanam palawija ke dua. Berdasarkan jumlah jenis tanaman yang ditanam, pola tanam dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu mokultur, tumpangsari, dan sistem lorong. Monokultur yaitu sistem pertanaman pada suatu hamparan lahan dengan satu jenis tanaman.

Keuntungan menggunakan sistem tumpangsari, tumpang gilir, dan sistem lorong adalah mengurangi resiko kegagalan panen dan pemasaran, memeratakan penggunaan tenaga kerja, dan mendistribusikan pendapatan agar lebih berkelanjutan. Penanaman tumpangsari dilakukan dengan dua jenis tanaman atau lebih dalam waktu yang bersamaan. Komoditas tersebut dapat terdiri atas tanaman palawija saja atau antara palawija dengan padi gogo. Karena bentuk tanamannya yang tinggi, jagung dan singkong dapat ditumpangsarikan dengan tanaman padi gogo, kedelai, dan kacang tanah. Waktu tanam pada sistem tumpangsari tersebut bersamaan, tetapi waktu panennya berbeda. Penanaman sistem tumpang gilir adalah penanaman dua No. Jenis Tanaman Varietas 1. 2. 3. Wiyasa, Arjuna, Kalingga Kerinci, Lokok, Wilia, Dempo Gajah, Gading, Pelanduk, Kerinci, Unggul lokal Jagung Kedelai Kacang tanah Tabel 1. Beberapa contoh variates Jagung, Kedelai, dan Kacang tanah yang sesuai untuk lahan rawa jenis tanaman atau lebih dalam satu hamparan lahan dengan waktu tanam yang berbeda. Cara ini dilakukan biasanya kalau musim hujannya pendek, sehingga petani dikejar waktu musim hujan. Sebagai contoh, kedelai

atau kacang tanah ditanam pada pertanaman jagung yang sudah berumur 70 hari. Ketika jagung dipanen (umur 90-100 hari), kedelai atau kacang tanah sudah berumur 20-30 hari. Pertanaman sistem lorong adalah penanaman tanaman semusim (termasuk palawija) diantara tanaman tahunan. Sebagai contoh adalah penanaman jagung atau kedelai diantara barisan tanaman kelapa atau jeruk. Pengolahan Tanah Pengolahan tanah bertujuan untuk membuat tanah menjadi gembur dan membersihkannya dari gulma, kayu, dan tunggultunggul. Jika akan dilakukan pengapuran secara tebar, pengolahan tanah juga dimaksudkan untuk mencampur kapur agar merata ke seluruh lapisan olah tanah. Cara mengolah tanah, tergantung pada jenis tanah dan kondisi lahan, yaitu: 1. Tanah aluvial diolah sedalam kurang lebih 20 cm secara mekanis dengan menggunakan traktor atau secara manual dengan menggunakan cangkul.

Jika terdapat bongkahanbongkahan tanah perlu dihancurkan dulu lalu diratakan; 2. Lahan sawah diolah ketika basah. Tanah tegalan diolah ketika lembab; 3. Tanah gambut diolah dengan mencacahnya menggunakan cangkul sedalam kurang lebih 10 cm, lalu dipadatkan dengan menggunakan alat pemadat gambut; 4. Tanah bergambut diolah dengan cara mencampur lapisan gambut dengan tanah aluvial sedalam 5-10 cm di bawahnya; 5. Pengolahan tanah yang mengandung pirit tidak boleh sampai mengusik lapisan pirit, agar macan yang sedang tidur ini tidak terbangunkan (tidak terjadi oksidasi); 6. Palawija yang ditanam sehabis padi, tidak perlu pengolahan tanah karena tanah umumnya telah gembur; 7. Khusus ubijalar, perlu dibuat guludan-guludan untuk setiap barisan tanaman karena tanaman ini peka terhadap genangan. Pada tanah gambut yang drainasenya baik, guludan boleh ditiadakan. Pengaturan Air Pada dasarnya, palawija terutama singkong, kacang tanah, dan ubijalar, tidak menyukai tanah yang tergenang dan becek. Namun tanaman ini tetap memerlukan air terutama pada masa

mudanya. Sampai umur 1-2 bulan, tanaman menghendaki tanah yang lembab tetapi tidak tergenang. Kurang lebih 10 hari menjelang panen, tanaman jagung, kedelai, dan kacang tanah menghendaki tanah yang agak kering. Namun, lahan sulfat masam dan gambut menuntut kondisi yang selalu lembab. Oleh sebab itu, air di saluran cacing diusahakan harus selalu diairi tetapi drainase juga harus tetap lancar. Air tanah dipertahankan pada kedalaman 75-100 cm. Air tanah pada pertanaman singkong dan ubijalar, sebaiknya tidak terlalu dangkal. Hal yang perlu dilakukan adalah pengecekan terhadap kondisi saluran tersier beserta pintu-pintunya dan saluran kuarter. Jika ada kerusakan atau pendangkalan harus diperbaiki. Pengaturan air dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Pada waktu air berlebihan (musim hujan atau pasang besar), pintu drainase dibuka ke luar. Jika air masih berlebihan, pintu irigasi ditutup

2. Pada waktu menjelang kemarau atau kekurangan air, pintu saluran irigasi tersier dibuka dan drainase ditutup. Jika terjadi kebocoran pintu saluran drainase, untuk sementara ditabat atau dibendung. Penggunaan Bahan Amelioran Bahan amelioran digunakan untuk tanaman jagung, kedele, dan kacang tanah pada lahan gambut dan lahan dengan pH rendah. Bahan amelioran untuk menaikkan pH biasanya adalah kapur. Secara praktis dosis yang digunakan berkisar antara 3-5 ton/ha, diberikan dengan cara ditebar pada tanaman pertama. Pada tanaman ke dua dan seterusnya, biasanya menggunakan dosis 0,2-0,5 ton/ha dapat diberikan pada larikan tanaman. Pada lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 1 m, selain kapur juga digunakan bahan amelioran lain berupa tanah mineral, abu, dan pupuk kandang. Amelioran idealnya digunakan dengan cara ditebar, tetapi mahal karena membutuhkan bahan yang 

cukup banyak. Maka amelioran dengan dosis 1-2 ton/ha dapat diberikan dengan cara ditebar dalam larikan bersamaan dengan pemberian kapur dan pupuk dasar. Pemupukan Pupuk yang digunakan terdiri atas pupuk Urea, SP-36, dan KCl dengan dosis sesuai kondisi masing-masing lahan. Sebagai patokan, dapat digunakan dosis per hektar untuk tanaman jagung adalah 200-250 kg Urea, 125-150 kg SP-36, dan KCl 100-125 kg. Kacang tanah dengan dosis 75 kg Urea, 100-125 kg SP-36, dan 100-125 kg KCl. Urea dan KCl diberikan dua kali, yaitu ½ bagian pada saat tanam dan sisanya pada umur 3-4 minggu atau bersamaan dengan penyiangan. Pupuk SP36 diberikan pada saat tanam. Tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m, sebaiknya diberi pula pupuk mikro berupa terusi atau CuSO dan ZnSO masing- 4 4 masing sebanyak 2,5-10 kg per hektar. Semakin tebal gambut,semakin banyak membutuhkan pupuk tersebut. Pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai, benih kedelai ditanam setelah dicampur dengan rhizobium (legin) sebanyak 10-15 gram per kilogram benih. 



SUMBER :

Head Office: Wetlands International-Indonesia Programme Jl. Ahmad Yani No 53-Bogor 16161 PO. Box 254/BOO-Bogor 16002 Tel:+62-251-312189; Fax: +62-251-325755 co_ccfpi@wetlands.or.id Sumatra Office: Jl. A. Thalib No. 28 Kec. Telanaipura - Jambi 36135 Tel: +62-741-60431 sec_ccfpiss@yahoo.com Kalimantan Office: Jl. Teuku Umar No 45 Palangka Raya 73111 - Kal Teng Tel/Fax: +62-536-38268 aluedohong@yahoo.com OR alue_dohong@hotmail.com Indonesia Programme Ditjen. PHKA

TANAMAN NANAS YANG HIDUP DI LAHAN GAMBUT



BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, Agustus 2018)_Pola agroforestry merupakan pola budidaya lahan yang bisa diterapkan dalam pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan. Masyarakat wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) telah menggunakan pola agroforestry dalam mengelola lahan gambut, baik gambut tipis, gambut menengah dan gambut dalam. Komposisi jenis tanaman terdiri dari tanaman berkayu, tanaman semusim, ternak dan ikan.

Tim peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) telah melakukan survei kajian budidaya komoditi unggulan di lahan gambut, salah satunya adalah jenis-jenis yang dibudidayakan menggunakan pola agroforestry.

“Dari hasil survei, jenis-jenis tanaman yang telah dibudidayakan dengan pola agroforestry di lahan gambut dan memiliki produktifitas cukup baik antara lain:  tanaman penghasil buah (rambutan dan jeruk)  tanaman penghasil kayu (sengon), tanaman penghasil getah (jelutung rawa dan karet), nenas dan sayur-sayuran (daun bawang, cabe dan jagung),” ungkap Tri Wira Yuwati, S.Hut, MSc peneliti Madya BP2LHK Banjarbaru sekaligus ketua tim survei.

Tri Wira menjelaskan, nenas banyak dibudidayakan masyarakat di Kec. Mekarsari, Kab. Barito Kuala, Kalsel, dan di Kab. Kapuas dan Kab. Pulang Pisau, Kalteng. “Nenas banyak dibudidayakan masyarakat karena nilai ekonomis yang cukup tinggi,” jelas Tri Wira.

Pola tanam budidaya nenas adalah monokultur dan agroforestry. Pola agroforestry yang ditemukan di lapangan adalah alley cropping (nenas ditanam bersama dengan tanaman karet menggunakan sistem lorong), trees along border (tanaman nenas dikelilingi tanaman berkayu dan palawija seperti karet, ubi kayu dan pisang) dan mix (tanaman nenas bercampur dengan tanaman berkayu seperti karet, tanaman buah dan tanaman palawija.

Sementara itu, teknik budidaya yang dilakukan oleh masyarakat di sana cukup bervariasi, dari yang bersifat tradisional hingga menggunakan teknologi yang lebih modern. Terkait itu, Tri Wira mengatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman di lahan gambut, antara lain: pembuatan saluran drainase, ameliorasi lahan dan pemberian jenis pupuk yang tepat.

“Umumnya masyarakat menggunakan sistem surjan dan sistem gundukan dengan pengaturan saluran drainase. Walaupun belum banyak, namun sudah ada masyarakat yang menggunakan metode pengelolaan lahan tanpa bakar," kata Tri.***JND

Sumber: Humas KLHK