Selasa, 23 November 2021

IKAN GABUS, MANFAATNYA DAN HIDUP JUGA DI PERARIAN GAMBUT

 

 

Ikan gabus adalah sejenis ikan predator yang hidup di air tawar. Ikan ini dikenal dengan banyak nama di berbagai daerah: dolak Kapuas Hulu, Kalbar, bocek dari riau, aruanharuan (Mly.,Bjn), kocolan (Btw.), bogo (Sd.), bayongbogolicingan (Bms.), kutuk (Jw.), kabos (Mhs.),gabos (Plbg.), rutiang (bahasa minangkabau) dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris juga disebut dengan berbagai nama seperti common snakeheadsnakehead murrelchevron snakeheadstriped snakehead dan juga aruan. Nama ilmiahnya adalah Channa striata (Bloch, 1793). Ikan darat yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 m. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead), dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya.

Ikan darat yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 m. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead), dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya.

Sisi atas tubuh—dari kepala hingga ke ekor—berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata, bercoret-coret) yang agak kabur. Warna ini sering kali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.

Kehidupan ikan gabus

Ikan gabus biasa didapati di danaurawasungai, Gambut, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok.

Seringkali ikan gabus terbawa banjir ke parit-parit di sekitar rumah, atau memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang memangsa ikan-ikan peliharaan di sana. Jika sawah, kolam atau parit mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa, akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh sebab itu ikan ini acap kali ditemui ‘berjalan’ di daratan, khususnya di malam hari di musim kemarau, mencari tempat lain yang masih berair. Fenomena ini adalah karena gabus memiliki kemampuan bernapas langsung dari udara, dengan menggunakan semacam organ labirin (seperti pada ikan lele atau betok) namun lebih primitif.

Pada musim kawin, ikan jantan dan betina bekerja sama menyiapkan sarang di antara tumbuhan dekat tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijagai oleh induknya.

 

Penyebaran ikan gabus

Ikan gabus menyebar luas mulai dari Pakistan di barat, Nepal bagian selatan, kebanyakan wilayah di IndiaBangladeshSri LankaTiongkok bagian selatan, dan sebagian besar wilayah di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Ragam jenis ikan gabus

Gabus dan kerabatnya termasuk hewan Dunia Lama, yakni dari Asia (genus Channa) dan Afrika (genus Parachanna). Seluruhnya kurang lebih terdapat 30 spesies dari kedua genus tersebut.

Di Indonesia terdapat beberapa spesies Channa; yang secara alami semuanya menyebar di sebelah barat Garis Wallace. Namun kini gabus sudah diintroduksikan ke bagian timur pula.

Salah satu kerabat dekat gabus adalah ikan toman (Channa micropeltes), yang panjang tubuhnya dapat melebihi 1 m dan beratnya lebih dari 5 kg.

Manfaat dan kerigian

Sebetulnya ikan gabus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan-ikan gabus liar yang ditangkap dari sungai, danau dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan kerap kali diasinkan sebelum diperdagangkan antar pulau. Gabus asin merupakan salah satu ikan kering yang cukup mahal harganya. Selain itu ikan gabus segar, kebanyakan dijual dalam keadaan hidup, merupakan sumber protein yang cukup penting bagi masyarakat desa, khususnya yang berdekatan dengan wilayah berawa atau sungai.

kan gabus juga merupakan ikan pancingan yang menyenangkan. Dengan umpan hidup berupa serangga atau anak kodok, gabus relatif mudah dipancing. Namun giginya yang tajam dan sambaran serta tarikannya yang kuat, dapat dengan mudah memutuskan tali pancing.Untuk masyarakat desa yang khususnya petani, ikan gabus sangat membantu memusnahkan hama, misalnya: sawah yang banyak di huni oleh hama keong, sering kali berujung dengan gagal panen, akibat dari ulah keong yang sering memakan padi, terutama di usia muda. Namun beberapa petani menemukan cara yang cukup mudah dan sangat membantu, yaitu, dengan mengembang biakan ikan gabus di sawah-sawah yang sedang di garapnya, dengan demikian keong-keong yang banyak merugikan petani sedikit demi sedikit akan berkurang,

Akan tetapi ikan ini juga dapat sangat merugikan, yakni apabila masuk ke kolam-kolam pemeliharaan ikan (Meskipun beberapa kerabat gabus di Asia juga sengaja dikembangbiakkan sebagai ikan peliharaan). Gabus sangat rakus memangsa ikan kecil-kecil, sehingga bisa menghabiskan ikan-ikan yang dipelihara di kolam, utamanya bila ikan peliharaan itu masih berukuran kecil. Ikan gabus juga menjadi spesies penganggu no.1 di Sulawesi dan Irian Jaya karena mereka telah memusnahkan speesies ikan asli.

Sejak beberapa tahun yang lalu di Amerika utara, ikan ini dan beberapa kerabat dekatnya yang sama-sama termasuk snakehead fishes diwaspadai sebagai ikan berbahaya, yang dapat mengancam kelestarian biota perairan di sana. Jenis-jenis snakehead sebetulnya masuk ke Amerika sebagai ikan akuarium. Kemungkinan karena kecerobohan, maka kini snakehead juga ditemui di alam, di sungai-sungai dan kolam di Amerika. Dan karena sifatnya yang buas dan invasif, Pemerintah Amerika khawatir ikan-ikan itu akan cepat meluas dan merusak keseimbangan alam perairan.

sumber : wikipedia

Tanaman Pakis Ostrich Muda atau Pakis Sayur yang hidup di lahan gambut

 

Tanaman Pakis Ostrich Muda atau Pakis Sayur yang hidup di lahan gambut


Jenis Tanaman Pakis Sayur

 Jenis pakis sayur ini banyak ditemui di laha gambut Jenis Pakis Ostrich ini bisa menghasilkan daun yang megah dengan membentang sampai lima kaki panjangnya. Untuk menanam jenis pakis ini Grameds membutuhkan lahan yang cukup luas agar Pakis Ostrich bisa tumbuh lebih maksimal. Hal ini berdasarkan karakteristik tanaman ini yang tumbuh secara menjalar yang biasanya bisa mencapai tinggi dan lebar sampai tiga kaki. Bahkan bisa tumbuh lebih besar lagi. 

Pakis Ostrich adalah salah satu jenis tanaman pakis yang bisa dikonsumsi, terutama pada bagian pucuknya yang masih muda. Pakis Ostrich muda memiliki warna hijau yang masih muda pemula dan mudah untuk diolah menjadi berbagai macam masakan. Salah satunya dibuat lalapan atau ditumis dengan bumbu sederhana pun sudah sangat enak. 

pakis sayur juga bisa dengan mudah ditemukan di laha gambut dan  tanaman pakis ini hidup liar di hutan. Itulah sebabnya banyak pula orang yang berburu atau sengaja mencari Pakis Ostrich muda untuk dijadikan olahan di rumah atau dijual di tempat-tempat sayur. 

Kamis, 18 November 2021

APA GAMBUT YANG SEBENERNYA, DEFINISI GAMBUT

 

Oleh    ditjenbun



JAKARTA-Lokakarya definisi dan metodologi lahan gambut menghasilkan usulan definisi lahan gambut : “Daerah dengan akumulasi bahan organik yang sebagian lapuk, dengan kadar abu sama dengan atau kurang dari 35%, kedalaman gambut sama dengan atau lebih dari 50 cm, dan kandungan karbon organik (berdasarkan berat) minimal 12%”, selain membahas definisi lahan gambut lokakarya juga dijadikan sebagai ajang diskusi tentang metodologi delinasi serta pemetaan lahan gambut termasuk kegiatan monitoring yang sesuai dengan kepentingan nasional.

 

Lokakarya dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2012 di Gedung Kementerian BUMN, yang dibuka oleh Kepala Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim, dan dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, LAPAN, BAPPENAS, Kementerian Dalam Negeri, BAKOSURTANAL, BPN, UKP4, BPPT, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Pekerjaan Umum, Akademisi, Asosiasi, LSM, Swasta, Kedutaan, Donor, Organisasi dan Swasta Internasional.

Definisi gambut yang diperoleh merupakan ringkasan definisi gambut dari tiga kementerian yaitu; Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup ‘tanah gambut’ sebagai tanah hasil penumpukan bahan organik melalui produksi biomassa hutan hujan tropis (PERMEN LH No.7/2006). Kementerian Pertanian mendifinisikan ‘gambut’ sebagai tanah hasil akumulasi timbunan bahan organik dengan komposisi lebih besar dari 65% yang terbentuk secara alami dalam jangka waktu ratusan tahun dari lapukan vegetasi yang tumbuh di atasnya yang proses dekomposisinya terhambat suasana anaerob dan basah (PERMENTAN No.14/Permentan/PL.110/2009). Kementerian Kehutanan mendifinisikan ‘gambut’ sebagai satu formasi pohon-pohon yang tumbuh pada kawasan yang sebagian besar terbentuk oleh sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama. Oleh karena itu ‘gambut’ adalah sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu yang lama (PERMENHUT No.P69/Menhut-II/2011). Dari ketiga kementerian tersebut hanya Kementerian Pertanian yang menyebutkan secara semi-kuantitatif sehingga perlu dikembangkan untuk dapat mengakomodasi persyaratan definisi lahan gambut yang dapat diadopsi untuk semua tujuan.

Metode Delineasi (penggambaran) Lahan Gambut diklasifikasikan menurut kedalaman gambut, lapisan gambut, daerah hidrologi lahan gambut dan pemanfaatan lahan gambut.

Untuk penggambaran berdasarkan klasifikasi tersebut akan dilaksanakan menggunakan metode citra satelit dan metode ground measurement, namun metode tersebut memiliki kelemahan masing-masing. Metode citra satelit dengan akurasi yang rendah dan metode ground measurement membutuhkan waktu lama dengan biaya tinggi. Sehingga diusulkan supaya menggunakan metode citra satelit dengan perbandingan 1:25.000 yang dikombinasi dengan ground measurement pada lokasi-lokasi terpilih yang segera untuk dilakukan pemanfaatan/penanganan.

ADA 3 JENIS KATAGORI LAHAN GAMBUT DI INDONESIA

 Program Peningkatan Penyediaan Pangan Nasional (Food Estate) merupakan salah satu Program Strategis Nasional yang dicanangkan pemerintah, sebagaimana tercantum dalam Perpres No.109/2020. Meskipun program ini ditujukan untuk menjaga ketahanan pangan nasional, sejumlah kajian menilai pendekatan food estate tidak efektif dan belum menyentuh akar permasalahan. Program food estate di Kalimantan Tengah menjadi sorotan karena dikembangkan di lahan eks-pengembangan lahan gambut (PLG) yang gagal di era Presiden Soeharto.

Lahan gambut berperan penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Ekosistem ini dapat menyimpan karbon 20 kali lebih banyak dibandingkan dengan hutan hujan tropis atau tanah mineral. Lahan gambut juga menyimpan sekitar 10% cadangan air tawar dunia, serta memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.

Di sisi lain, gambut sangat rentan terhadap gangguan. Lahan gambut dikategorikan sebagai lahan marjinal karena dalam kondisi alaminya, gambut memiliki kesuburan yang rendah, pH yang sangat masam, dan selalu tergenang. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan lahan ini akan digunakan untuk pengembangan food estate.

Hingga tulisan ini diturunkan, pemerintah belum mengumumkan lokasi detail mengenai kawasan eks-PLG yang akan digunakan untuk program ini. Informasi yang beredar hanya sekadar lokasi umum. Tetapi belum ada informasi detail sehingga menyulitkan masyarakat sipil dan akademisi dalam melakukan analisis risiko terjadinya alih fungsi lahan gambut dan hutan. Kurangnya informasi ini dapat menghambat pemantauan pengembangan lahan di atas gambut serta dapat memicu adanya konflik antara masyarakat dengan pihak yang terlibat dalam program tersebut.

Berikut adalah hasil analisis kami mengenai tiga jenis kawasan gambut yang perlu dihindari dalam pengembangan food estate:

1. Lahan gambut dengan kedalaman > 1 meter

Lahan gambut berkategori kedalaman sedang sampai sangat dalam (> 1 meter) memiliki daya menahan beban yang rendah, sehingga tidak dianjurkan sebagai lahan pertanian. Karena memiliki tingkat kesuburan yang rendah, lahan ini juga sangat bergantung pada lapisan mineral di bawahnya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

Di sisi lain, semakin dalam gambut, semakin banyak pula cadangan karbonnya. Gambut berkedalaman 12 meter dapat menyimpan cadangan karbon hampir 22.3 Gt, sehingga potensi kehilangan karbon semakin besar apabila diubah menjadi lahan pertanian.

Singkatnya, semakin dalam gambut, semakin rendah potensinya untuk budidaya tanaman pangan.

2. Lahan gambut bervegetasi hutan (primer dan sekunder)

Vegetasi hutan rawa gambut memiliki peranan penting dalam menjaga agar ekosistem ini tetap utuh dan menjadi salah satu dari tiga komponen kunci, selain tanah gambut dan air. Dengan utuhnya vegetasi hutan rawa gambut, keseimbangan hidrologis dan keutuhan tanah gambut akan terjaga.

Penggunaan lahan gambut untuk aktivitas pertanian biasanya diawali dengan penyiapan lahan, yang biasanya dilakukan dengan penebangan vegetasi alami hutan rawa gambut sekaligus pembuatan kanal-kanal drainase. Ini adalah awal dari degradasi lahan gambut berupa penurunan muka air tanah, dekomposisi tanah gambut, emisi gas rumah kaca, hingga penurunan permukaan tanah gambut. Emisi karbon yang terukur pada lahan gambut terbuka tanpa vegetasi sebesar 62,25 ton CO2/ha/tahun, setara dengan membakar lebih dari 26.000 liter bensin.

Vegetasi rawa gambut asli memiliki kerapatan biomassa yang tinggi, berkisar antara 56 sampai 200 ton karbon/hektar, hampir sama dengan hutan primer di lahan mineral dan 40 kali lebih besar dari cadangan karbon lahan padi. Hilangnya vegetasi alami hutan rawa gambut yang disertai dengan kegiatan drainase menyebabkan gambut kehilangan kemampuan alaminya untuk menyimpan karbon dan menyerap air. Dalam kondisi ini, gambut akan menjadi kering dan sangat mudah terbakar jika terkena percikan api, sehingga tidak hanya menghasilkan karbon, tetapi juga gas-gas rumah kaca lainnya, seperti metana, yang 21 kali lebih berbahaya daripada karbon dioksida.

3. Lahan gambut dengan fungsi lindung

PP No.71/2014 jo. PP No. 57/2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut membedakan dua fungsi ekosistem gambut, yaitu fungsi lindung dan fungsi budi daya. Fungsi lindung terkait dengan perlindungan dan penyeimbangan tata air serta penyimpan karbon di suatu kawasan gambut. Ketika fungsi ini mengalami kerusakan, ekosistem menjadi rentan terdegradasi sehingga bencana kebakaran lebih mudah terjadi.

Peraturan perundang-undangan di Indonesia tidak mengatur tentang kriteria dalam mengubah fungsi lindung gambut menjadi fungsi budi daya. Namun, pemerintah wajib menetapkan kawasan ekosistem gambut dengan fungsi lindung paling sedikit seluas 30% dari seluruh kesatuan hidrologis gambut (KHG)1. Jadi, lahan gambut di dalam dan luar kawasan hutan yang mempunyai fungsi lindung tetap harus dilindungi.

Kebijakan food estate yang mengubah kawasan hutan tanpa memerhatikan fungsi lindungnya bertentangan dengan peraturan tersebut. Menurut Permen LHK No. 24/2020 tentang Penyediaan Kawasan Hutan untuk Pembangunan Food Estate, terdapat dua cara yang dapat ditempuh, yaitu melalui perubahan peruntukan kawasan hutan atau melalui penetapan kawasan hutan untuk ketahanan pangan (KHKP).

Namun, kriteria dalam kedua cara tersebut tidak mengecualikan kawasan hutan yang merupakan lahan gambut dengan fungsi lindung. Dengan demikian, ada potensi dibukanya lahan gambut dengan fungsi lindung untuk kegiatan food estate. Kebijakan ini juga dapat mengakibatkan alih fungsi ekosistem gambut lindung di luar kawasan hutan lindung, termasuk kawasan hutan produksi (KHP) dan areal penggunaan lain (APL). Menurut analisis WRI, terdapat sekitar 883.475 ha lahan gambut dengan fungsi lindung yang berada dalam kawasan eks-PLG, dimana 92% berada di hutan konservasi dan lindung, 4% berada di hutan produksi, dan 4% berada di APL.

Perlindungan dan pengelolaan lahan gambut sebaiknya dilakukan dengan pendekatan berbasis KHG, karena ekosistem ini merupakan tatanan unsur gambut yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitasnya. Hal ini penting dilakukan untuk melestarikan dan mencegah terjadinya kerusakan fungsi ekosistem gambut.

Belajar dari kegagalan proyek PLG serta dampaknya terhadap kerusakan lingkungan dan percepatan degradasi gambut, sudah selayaknya pemerintah lebih berhati-hati dalam penggunaan lahan gambut untuk food estate. Pembukaan gambut sebagai lahan pertanian tanpa perlakuan khusus akan membuat kondisi ekosistem alami gambut yang basah menjadi kering sehingga meningkatkan potensi kebakaran dan degradasi lahan.

Melakukan aktivitas pertanian di lahan gambut sepatutnya memperhatikan hal-hal berikut:

a. Manfaatkan lahan budi daya dan lahan yang telah dimanfaatkan sebelumnya, serta tidak mengonversi gambut menjadi lahan pertanian berdasarkan ketiga jenis kriteria di atas;

b. Penuhi kaidah ramah gambut dalam praktik budi daya tanaman, yakni dengan tidak mengeringkan atau membakar gambut serta tidak mencemari lingkungan;

c.Lakukan kajian dan analisis dampak lingkungan yang lebih komprehensif terkait kondisi lahan gambut dan kawasan di sekitarnya dengan secara spesifik memperhatikan satu kesatuan lanskap hidrologis gambut; serta

d.Amandemen Permen LHK No. 24/2020 dengan penambahan larangan yang jelas pada pembukaan kawasan hutan yang mempunyai lahan gambut dengan fungsi lindung dan mempertimbangkan kriteria biofisik.

Minggu, 14 November 2021

BURUNG KAREO ATAU BURUNG RERUAK YANG HIDUP DI LAHAN GAMBUT

 Kareo Padi atau dikenal degan burung Reruak (Amaurornis phoenicurus) adalah spesies burung yang masuk dalam famili Rallidae. Burung ini tersebar di India, China selatan, Asia Tenggara, Filipina, Sulawesi, Sunda Besar dan Nusa Tenggara. 

Namun, burung ini juga bisa ditemukan di sepanjang pesisir Lumajang, Jawa Timur atau bisa juga di Banyumas, provinsi Jawa Tengah. Sumatera Selatan.


Biasanya burung ini dapat ditemukan di rerumputan rawa, Gambut, sawah, hutan bakau, parit-parit di tepi jalan, dan tentunya di lahan-lahan yang berbau basah serta berair.


Karena lahan basah serta berair yang sering ditempati, maka burung ini dimasukkan dalam kategori water bird (yakni burung yang mempunyai habitat di tempat berair. Selain hidup di alam bebas, burung kareo padi juga ada yang sengaja dilindungi. Sebagai contoh, hal ini dilakukan oleh kelompok Minat Tirta Lawalata Institut Pertanian Bogor, yang fokus terhadap kegiatan perairan (baik kajian maupun olahraga), yang memelihara burung ini di wilayah danau LSI Institut Pertanian Bogor.


Dulu burung ini ada dimana-mana, tetapi jumlahnya kini sudah jauh menurun karena perburuan dan penangkapan. Di sawah pun sebagian besar sudah menghilang, terutama dari areal persawahan yang menggunakan pestisida kimia. Pestisida tersebut membuat lumpur dan tanah tercemari, di mana di tempat tersebutlah Kareo padi mencari makanannya yang berupa biji-bijian, cacing, serangga, dan siput kecil, ikan- ikan kecil.


Ciri- Ciri Burung Koreo/ Burung Reruak

Tinggi burung Kareo padi biasanya dapat mencapai 20 cm dengan panjang 15 cm. Bentuk tubuh burung kareo padi adalah ramping dengan ekor pendek, sedang paruh serta kakinya mempunyai ukuran lumayan panjang. Kemudian, bulu-bulunya berwarna coklat keabu-abuan tua, tetapi muka, tenggorongkan, serta dadanya didominasi warna putih yang mencolok.


Ketika berjalan, ekornya biasa ditegakkan dan warna bagian bawah tubuhnya yang kadru bisa terlihat. Untuk burung dewasa memiliki warna hitam dan putih yang mencolok. Baik burung dewasa maupun muda, keduanya sama-sama mempunyai paruh yang berwarna kuning gading. Untuk ukuran kakinya, butung kareo padi bisa dibilang memiliki kaki yang cukup kurus dan tinggi daripada proposi tubuhnya dengan berselimut warna kuning. Hewan yang satu ini suka mengendap-ngendap dalam semak yang lembab dan dapat bertelur sepanjang tahun.


Burung ini memiliki suara yang luar biasa, yakni bersuara uwok-uwok dan sangat ribut, beberapa ekor berdendang bersama berupa dengkuran, kuikan, dan ketukan yang berbunyi turr-kruwak atau per-per-a-wak-wak-wak, juga dengan suara lain yang berlangsung sampai lima belas menit pada siang dan malam hari.


Tempat Hidup 

Burung kareo padi biasanya hidup di dataran rendah sampai dengan ketinggian yang mencapai 1.600 meter di seluruh Sunda Besar. Umumnya burung ini hidup sendirian, kadang-kadang berdua atau bertiga. Dia akan keluar dari persembunyiannya ke tempat terbuka untuk mencari makanan, sehingga lebih terlihat daripada ayam-ayaman lainnya. Selain itu, kareo padi juga mempunyai kesenangan untuk memanjat-manjat semak dan pohon kecil. Sarangnya berada di antara alang-alang, rumput tinggi, atau semak belukar yang padat, dibuat 1 sampai 2 meter di atas tanah dan berbentuk cekungan yang dangkal yang alasnya terbuat dari ranting kecil, batang tumbuhan yang menjalar, ataupun dedaunan.

PURUN DI BALIK GAMBUTYANG MENJADI PENGHASILAN TAMBAHAN BAGI MASYARAKAT

 Ada pernyataan mengejutkan dari perajin purun di Desa Perigi Talang Nangka, Kecamatan Pangkalan Lampan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang disampaikan kepada sejumlah anggota Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumatera Selatan dan Badan Restorasi Gambut (BRG), pada pertengahan Oktober 2017 lalu.

Salah satunya, sebagaimana disampaikan Yahun (50). Menurutnya, masih banyaknya purun di gambut justru membuat para perajin tidak bisa memenuhi pesanan. “Saat ini, kami belum butuh modal produksi karena kami masih mampu,” tuturnya.

Lalu, apa yang dibutuhkan? “Kami sudah tua, sudah tidak sanggup lagi menumbuk seharian. Kami senang jika dibantu alat yang membuat kami tidak capek menumbuk. Kami juga butuh mesin jahit, saat ini di kelompok kami hanya ada satu mesin jahit, itu pun sering rusak,” lanjutnya.

Pernyataan Yahun ini, diiyakan perajin purun lainnya, para perempuan yang usianya tidak lagi muda. “Sebenarnya dalam satu hari, kami dapat menganyam satu tikar, kemudian beberapa jam dijahit. Tapi yang paling lama itu proses menjemur, menumbuk, dan mewarnai yang butuh waktu sekitar dua minggu. Sehingga, dalam sebulan kami hanya mampu memproduksi 3-4 tikar purun per orang,” kata Yatini.

Dengan produksi sebanyak itu, pendapatan kami berkisar Rp300-350 ribu per bulan. “Harga pasaran tikar purun di sini Rp60-80 ribu per lembar, tergantung motif atau pewarnaannya,” lanjutnya.

Kemampuan produksi sebanyak itu, sangatlah sulit jika ada pihak yang memesan 500 lembar tikar purun per bulan. Sebab, saat ini tersisa 55 perajin tikar purun di Desa Perigi Talangnangka yang terbagi dalam tiga kelompok usaha. “Bisa saja, tapi kami kerja siang-malam, tidak menyadap karet. Habis memenuhi pesanan, kami sakit, tangan kami bengkak,” ujar Yahun tertawa.

Sementara para pembeli barang-barang organik juga terkadang tidak mau membeli dengan harga tinggi. “Katanya tikar buatan kami tidak rapi, karena purunnya ditumbuk tidak rata atau sama. Ya, benar juga alasannya, tapi itu kan karena mintanya mau cepat jadi menumbuknya juga cepat. Susah kami,” kata Yahun.

Desa Perigi Talang Nangka merupakan satu dari lima desa di Kecamatan Pangkalan Lampan, Kabupaten OKI, yang selama ini warganya mengakses lahan gambut di sekitar maupun di kawasan Bentang Alam Sugihan Sebokor. Selain mencari ikan, kayu, mereka juga bersonor, yang diduga menyebabkan kerusakan lahan gambut dan kebakaran. Wilayah ini masuk KHG (Kawasan Hidrologis Gambut) Sugihan-Saleh yang menjadi target restorasi gambut.

sumber: MONGABAY

Sabtu, 01 Februari 2020

MANFAAT GAMBUT

































Jenis tanah di seluruh Indonesia sangatlah banyak dan beragam, kita ketahui bahwa indonesia merupakan negara  yang memiliki sumber daya alam yang banyak dan melimpah, dan tentu semua manfaat sumber daya alam itu dapat dimanfaatkan keberadaannya, seperti manfaat sumber daya alam nabati dan manfaat sumber alam daya hewani dengan berbagai jenis sumber daya alam ini apabila dapat menggunakannya dengan baik tentu akan baik pula negara ini. Namun ironisnya, beberapa sumber daya alam yang ada di dunia ini belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh manusia. Sehingga banyk sumber daya alam yang hanya di biarkan mengaggur dan tanpa ada fungsi yang berarti.
Beberapa sumber daya alam yang diketahui salah satunya adalah tanah. Manfaat tanah dalam kehidupan sehari-hari tentu sangat banyak. Dengan adanya tanah dapat menompang seluruh kehidupan di bumi ini, seperti halnya manfaat tanah humus yaitu dapat digunakan sebagai pupuk alami untuk menanam, manfaat tanah latasol yang bermanfaat untuk sebagai dasar bangunan dan manfaat tanah yang lainnya seperti manfaat tanah laterit, dan manfaat tanah kapur. Semua jenis tanah itu memiliki manfaat dan fungsinya masing-masing.
Ada salah satu jenis tanah lagi, tanah ini terbentuk karena umur tanah yang sudah melewati juta-jutaan tahun lamanya. Biasanya tanah ini dihasilkan karena adanya pelapukan tanaman pada zaman sejarah dahulu. Sehingga tanaman tersebut mengalami pelapukan selama berjuta-juta tahun dan akhirnya terjadilah salah satu jenis tanah. Biasanya jenis tanah ini berada di daerah rawa-rawa atau pun di daerah dataran pantai. Jenis tanah ini sering disebut sebagai tanah Gambut. (Baca Juga: Manfaat Ilmu Sosial , Manfaat Sumber Daya Alam yang Tidak Dapat Diperbaharui)
Tanah Gambut
Tanah gambut sangat memiliki banyak manfaat bagi kehidupan terutama dalam hal pertanian, bila dalam penjelasan di atas bahwa tanah gambut terjadi akibat adanya beberapa pelapukan dari tanaman prasejarah, berarti tanah ini tentu akan memiliki kemampuan yang baik dalam menanam suatu tanaman. Tanah gambut di Indonesia ini kurang lebih mencapai 26 juta Hektar perhitungan ini pada tahun 1995. Jadi bukan tidak mungkin pada tahun ini tanah gambut semakin meluas luasnya. Itulah sejarah dari terbentuknya tanah gambut, begitu penting manfaat belajar sejarah bagi anak muda saat ini, agar tidak melupakan banyak sejarah manis di dunia ini terutama di negara Indonesia. Berikut akan di ulas lebih lanjut mengenai manfaat  tanah gambut. (Baca Juga: Manfaat Pembangunan Ekonomi , Manfaat Rumah Kaca)
Manfaat Tanah Gambut
  1. Menambah Lahan Pertanian
Tanah gambut berasal dari pelapukan tanaman pada zaman prasejarah, tentu hal ini akan baik bagi kehidupan saat ini pula, dengan semakin melebarnya tanah gambut (yang pada tahun 1995 tanah berjumlah 26 juta hektar) maka semakin banyak pula peluang pertanian untuk memanfaatkan tanah gambut sebagai sumber pangan mereka, lahan yang mengandung tanah gambut dapat digunakan untuk menambah lahan pertanian karena dipercaya mampu untuk penyemaian bibit pohon sehingga bibit pohon akan menjadi baik dan dalam pertumbuhannya akan baik pula. (Baca Juga:  manfaat kelapa sawit , Manfaat Pohon Sagu )
  1. Menambah Hasil Produksi tanaman
Tanah gambut memang bukan tanah sembarangan bagi para petani, selain manfaat tanah humus yang dapat menyuburkan tanah, tanah gambut ini ternyata pun memiliki manfaat yang hampir sama dari tanah humus, tanah gambut memiliki kemampuan untuk mempermudah proses tumbuh dan banyak kandungan yang ada di tanah gambut ini membantu pertumbuhan tanaman dari dalam seperti beberapa tanaman yang memiliki manfaat ini manfaat kedelaimanfaat jagung, manfaat terong, manfaat semanggka, dan buah-buahan yang bermanfaat lainya seperti melon, kangkung, jahe, ubi jalar, singkong dan lain sebagainya.


  1. Tanaman mudah Tumbuh
Tanaman yang disemaikan di tanah gambut akan mudah tumbuh dan lebih cepat proses pertumbuhannya. Karena pada dasarnya tanah gambut memiliki sosok yang dapat dikatakan lebih kuat jadi bibit-bibit tanman yang disemai pada lapisan tanah ini pun akan tampak sosoknya yang lebih kuat. (Baca Juga: Manfaat Biji Cendana , Manfaat Tanaman Sagu)
  1. Membantu Peremajaan Hutan
Menurut penelitian tanah gambut memiliki manfaat untuk  mempercepat proses peremajaan hutan, artinya dengan memanfaatkan tanah gambut ini hutan akan cepat rimbun karena tanaman yang tumbuh di lahan yang akan menjadi hutan ini adalah tanaman yang memiliki kualitas yang baik. Peremajaan hutan ini sangat digalakkan oleh pemerintah dan sangat diperlukan untuk kehidupan dalam dunia ini. bayangkan saja tidak ada peremajaan hutan tentu kita tidak dapat merasakan manfaat hutan dalam hidup ini, untuk itu peremajaan hutan pada tanah gambut harus dimanfaatkan dengan baik, agar hasil yang dihasilkan pun menjadi baik dan memiliki manfaat yang lebih dari apa yang diinginkan. (Baca Juga: Manfaat Hutan Bakau  , Manfaat Hutan Hujan Tropis)
  1. Sebagai Bahan Bakar
Berdasarkan salah satu penelitian bahwa tanah gambut memiliki kandungan abu yang baik untuk bahan bakar, tanah abu yang berada di Indonesia cenderung lebih baik dan kaya akan kalori. Tanah gambut ini memilki kandungan abu kurang dari 1% dimana tentu hal ini akan lebih menghemat biaya karena kandungan abu yang masih rendah. Selain itu kandungan abu yang rendah akan mampu mengurangi polusi lingkungan. Bahan bakar sangat perlu di lestarikan dan di jaga keberadaannya karena manfaat bahan bakar di Indonesia sangatlah banyak, terutama dalam menunjang kehidupan. (Baca Juga: Manfaat Buah Bintaro untuk Bahan Baku Industri , Manfaat Sumber Daya Tambang )
  1. Sebagai pembangkit tenaga listrik
Selain dapat digunakan untuk bahan bakar, tanah gambut pada pedesaa ternyata dapat menghasilkan aliran listrik. Terutama bagi mreka yang belum terjangkau oleh PLN. Biasanya tanah gambut dimanfaatkan oleh pabrik-pabrik untuk memanfaatkannya sebagai penunjang industri mereka. Manfaat listrik sangatlah dirasakan bagi setiap insan. Bisa dibayangkan tanpa adanya tanah gambut tentua akan sulit bagi mereka untuk melakukan aktivitas di malam hari, itu sebabnya mengapa listrik sangat bermanfaat bagi mereka terutama bagi perindustrian, karena hal ini dapat menghemat biaya listrik yang ditarifkan oleh PLN (Baca Juga: Manfaat Sumber Arus Listrik , Manfaat Pembangkit Listrik Sederhana)
  1. Sebagai Pupuk
Sama halnya dengan manfaat tanah humus tanah ini pun dapat digunakan atau dimanfaatkan sebagai tanah pupuk, tanah gambut memang sangat baik jika digunakan untuk pupuk, karena dapat membantu proses pertumbuhan tanaman yang akan di taman. Selain itu faktanya, tanah ini menjadi salah satu pupuk yang di ekspor ke seluruh dunia, karena tanah ini sangat di minati oleh beberapa negara, sampai pada diminati oleh dunia internasional. (Baca Juga: Manfaat Ampas Tebu , Manfaat Batang Pisang)
Manfaat tanah gambut dalam kehidupan sangatlah beranekaragam, mulai dari untuk pupuk, sumber tenaga listrik, penghasil bahan bakar dan manfaat yang lainnya. Dengan beberapa manfaat yang sudah diuraikan ini semoga menambah wawasan dan pengetahuan anda dari beberapa manfaat tanah gambut.