Ada pernyataan mengejutkan dari perajin purun di Desa Perigi Talang Nangka, Kecamatan Pangkalan Lampan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang disampaikan kepada sejumlah anggota Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumatera Selatan dan Badan Restorasi Gambut (BRG), pada pertengahan Oktober 2017 lalu.
Salah satunya, sebagaimana disampaikan Yahun (50). Menurutnya, masih banyaknya purun di gambut justru membuat para perajin tidak bisa memenuhi pesanan. “Saat ini, kami belum butuh modal produksi karena kami masih mampu,” tuturnya.
Lalu, apa yang dibutuhkan? “Kami sudah tua, sudah tidak sanggup lagi menumbuk seharian. Kami senang jika dibantu alat yang membuat kami tidak capek menumbuk. Kami juga butuh mesin jahit, saat ini di kelompok kami hanya ada satu mesin jahit, itu pun sering rusak,” lanjutnya.
Pernyataan Yahun ini, diiyakan perajin purun lainnya, para perempuan yang usianya tidak lagi muda. “Sebenarnya dalam satu hari, kami dapat menganyam satu tikar, kemudian beberapa jam dijahit. Tapi yang paling lama itu proses menjemur, menumbuk, dan mewarnai yang butuh waktu sekitar dua minggu. Sehingga, dalam sebulan kami hanya mampu memproduksi 3-4 tikar purun per orang,” kata Yatini.
Dengan produksi sebanyak itu, pendapatan kami berkisar Rp300-350 ribu per bulan. “Harga pasaran tikar purun di sini Rp60-80 ribu per lembar, tergantung motif atau pewarnaannya,” lanjutnya.
Kemampuan produksi sebanyak itu, sangatlah sulit jika ada pihak yang memesan 500 lembar tikar purun per bulan. Sebab, saat ini tersisa 55 perajin tikar purun di Desa Perigi Talangnangka yang terbagi dalam tiga kelompok usaha. “Bisa saja, tapi kami kerja siang-malam, tidak menyadap karet. Habis memenuhi pesanan, kami sakit, tangan kami bengkak,” ujar Yahun tertawa.
Sementara para pembeli barang-barang organik juga terkadang tidak mau membeli dengan harga tinggi. “Katanya tikar buatan kami tidak rapi, karena purunnya ditumbuk tidak rata atau sama. Ya, benar juga alasannya, tapi itu kan karena mintanya mau cepat jadi menumbuknya juga cepat. Susah kami,” kata Yahun.
Desa Perigi Talang Nangka merupakan satu dari lima desa di Kecamatan Pangkalan Lampan, Kabupaten OKI, yang selama ini warganya mengakses lahan gambut di sekitar maupun di kawasan Bentang Alam Sugihan Sebokor. Selain mencari ikan, kayu, mereka juga bersonor, yang diduga menyebabkan kerusakan lahan gambut dan kebakaran. Wilayah ini masuk KHG (Kawasan Hidrologis Gambut) Sugihan-Saleh yang menjadi target restorasi gambut.
sumber: MONGABAY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar