Selasa, 23 Agustus 2022

PETANI SUKSES MENAMAN CABAI DI LAHAN GAMBUT

 JawaPos.com- Berbeda dengan petani lain, keputusan Badri mengolah lahan gambut terbilang berani. Saat kebanyakan orang menanam sawit, pria berusia 41 tahun itu sukses bercocok tanam cabai.

Warga Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak, Riau, ini sudah menanam cabai merah selama setahun belakangan. Usahanya tak sia-sia, bahkan ia mendapatkan keuntungan yang terbilang besar dari memelihara tanaman holtikultura ini Berbeda dari sawit, Badri tak perlu menunggu waktu dua minggu untuk memanennya. Cabai yang ditanam dari hasil jerih payahnya ini bisa dipanen setiap tiga atau empat hari sekali.

Dalam sekali panen, Badri pernah mendapat hampir setengah ton cabai merah di lahan seperempat hektare olahannya. “Dikalikan saja, satu kilo harga cabai normal Rp 36 ribu. Waktu itu empat kuintal lebih hasil panen cabainya,” cerita Badri kepada wartawan saat ditemui di Siak, Kamis siang (7/2).

Awal mula Badri memutuskan menanam cabai, banyak petani lain tak percaya dengannya. Namun berkat pengetahuan dari Sekolah Lapang BRG, dia menjadi tahu karekteristik tanah gambut.

“Inti bertani itu tahu karekteristik tanah, kalau gambut misalnya ada yang perlu dilakukan. Namun jangan sampai keasamannya hilang, yang perlu itu keseimbangan,” sebut Badri.

Untuk menanam cabai di lahan gambut tidaklah mudah dan sembarangan. Butuh pengetahuan agar hasilnya bisa memuaskan. Hal penting yang dibutuhkan adalah mengetahui tingkat keasaman pada permukaannya.

Keasaman itu perlu diturunkan dengan cara murah dan bahan mudah didapat. Salah satunya adalah pohon pisang. Hasil cacahan pohon disebar di lahan yang akan ditanam. Tingkat keasaman akan ketahuan, baik diukur dengan memakai alat maupun menanam tanaman lain.

“Dulu saya tanam sawi, kalau sudah hijau berarti tingkat keasaman tidak tinggi lagi. Kalau daunnya masih kuning, berarti masih tinggi, kalau sawinya hijau, barulah bagus, lalu ditanam cabai. Inilah hasilnya, bisa dilihat,” jelasnya.

Kini, ratusan batang cabai di lahan Badri sudah berusia setahun. Dia menyebut sudah saatnya diganti dengan yang baru karena akan menyebabkan biaya lebih besar jika masih dipertahankan.

Menurutnya, pohon cabai berumur setahun masih bisa berproduksi tapi hasilnya tentu saja tidak memuaskan. Apalagi saat musim kemarau. Sebab butuh disemprot ekstra agar buahnya tidak berulat atau mengering.

“Kalau sekarang tinggal diganti karena tanah ini sudah teruji, asamnya sudah tidak tinggi. Hanya perlu membersihkan buah cabai yang jatuh ke tanah agar tak jadi bakteri,” kata Badri.

Sejak keberhasilannya bertanam cabai mulai tersiar, banyak petani yang berdatangan ke lahannya. Mereka ingin belajar bagaimana gambut bisa ditanam cabai tanpa harus membakar dulu. “Tanpa membakar, asamnya bisa dikurangi. Jangan sampai hilang karena kesuburannya juga akan ikut hilang,” tuturnya.

Badri menekankan tanaman holtikultura di gambut lebih menjanjikan daripada sawit maupun tanaman lainnya. Dia sudah membuktikan hal tersebut. Bahkan hasil dari cabai ini membuat dirinya sampai jalan-jalan ke Bangkok, Thailand.

“Ini sangat menjanjikan, potensial. Sudah ada yang belajar, kalau dulu orang belum percaya karena mengganggap saya sebagai petani baru,” tutupnya.


Sumber : Jawapos.com

Editor : Dida Tenola

Reporter : Virda Elisya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar