Kamis, 25 Agustus 2022

MANFAAT LAHAN GAMBUT

 Indonesia adalah negara dengan lahan gambut terbesar ke-2 di dunia. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal, apalagi menyayangi, gambut.

Padahal, gambut memiliki manfaat yang luar biasa. Salah satunya adalah kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah banyak. Gambut mampu menampung hingga 30 persen jumlah karbon dunia agar tidak terlepas ke atmosfer.

Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan gambut memiliki fungsi untuk mencegah perubahan iklim, bencana alam, hingga menjadi penunjang perekonomian masyarakat sekitar.

Dr. Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) pun mengajak semua pihak untuk membincangkan gambut dengan sukacita, tanpa perlu mengerutkan kening.

Dia mencontohkan pempek, makanan asal Palembang, Sumatera Selatan, yang berbahan dasar sagu.

Pohon sagu yang tumbuh di lahan gambut dan ikan gabus yang hidup di rawa atau sungai sekitar lahan gambut, ujar Myrna, merupakan kombinasi yang sangat baik dan menghasilkan pempek terlezat.

“Hal ini merupakan contoh sederhana mengapa peduli akan gambut cukup penting, bukan hanya penting bagi masyarakat setempat, tetapi juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan.” tutur Myrna dalam TalkShow Ruang Publik Peluncuran Seri Podcast Gambut Bakisah dan Pentingnya Lahan Gambut Indonesia.

Gambut juga menjadi penting bagi masyarakat yang memanfaatkan ekosistemnya karena dekat dengan perairan seperti sungai, rawa, atau laut, untuk kegiatan perikanan.

Sementara itu, lahan gambut yang tidak tebal dan dianggap relatif lebih subur, menjadi tempat bertani dan menanam tumbuhan jenis holtikutura.

“ Lahan gambut di Indonesia merupakan gambut tropis yang di dalamnya hidup berbagai jenis tanaman dan hewan mulai dari ikan, burung air, dan orang hutan,” kata Myrna.

Padahal, lahan gambut yang rusak dan kering menjadi rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Lantas jika sudah terlanjur terjadi, kebakaran di lahan gambut cukup sulit untuk dipadamkan karena api yang menyala berada di bawah tanah.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penduduk di wilayah lahan gambut itu sendiri. Asap dari karhutla yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan bisa berisiko ke daerah-daerah lain.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan gambut dari berbagai sudut pandang, Lembaga Kemitraan – the Partnership for Governance Reform pun menggelar peluncuran wadah pengetahuan pelestarian lahan gambut melalui serial podcast “Gambut Bakisah” yang diproduksi Kantor Berita Radio (KBR) Prime.

Podcast ini terdiri dari 12 seri episode yang dapat diakses melalui Spotify, KBR Prime, Anchor, dan platform podcast audio lain setiap minggu mulai dari pekan ini.

Hasbi Berliana, Direktur Sustainable Development Governance Lembaga Kemitraan, mengatakan, dalam seri episodenya, podcast ini juga mengangkat kebijakan lahan gambut dan tantangannya di tingkat desa seperti pencegahan karhutla.

“Kisah masyarakat dan inisiatif anak muda serta beragam praktik baik yang dapat menjadi contoh bagi pihak lain pun akan diangkat,” ujarnya.

Sumber : BRGM dan 

https://www.kompas.com/sains/read/2020/09/15/180900723/lestarikan-gambut-manfaatnya-bagi-manusia-begitu-luar-biasa?page=all#page2


Rabu, 24 Agustus 2022

TANAM JAGUNG DI LAHAN GAMBUT SANGAT SUBUR

Diungkapkan Kepala BPPT, Biopeat akan membakar keasaman tanah gambut sehingga bisa digunakan untuk menanam berbagai jenis tumbuhan. Selain itu, Biopeat juga mengandung unsur pupuk yang dapat membuat buah yang dihasilkan lebih manis dibanding tidak menggunakan Biopeat.

"Ini solusi kalau mau menanam enggak usah dibakar tapi dengan menaburkan Biopeat. Masalah kebakaran lahan gambut, dengan adanya diseminasi ini, bisa jadi satu solusi. Masyarakat butuh untuk kehidupan ekonomi lebih baik,"  paparnya.


Kepala BPPT lantas optimis bahwa inovasi biopeat bisa diterapkan di daerah lainnya, termasuk Kalimantan yang memiliki banyak lahan gambut yang belum dapat dimanfaatkan.


"Biopeat siap dikomersilkan.  BPPT sedang mengurus sertifikasi penggunaannya agar sesuai dengan standar tersendiri," pungkasnya.
 
 
Di tempat yang sama, Bupati Indragiri Hilir HM Wardan menyebut bahwa pihaknya sangat mengapresiasi inovasi biopeat. Hal ini imbuhnya, sangat bermanfaat bagi masyarakat untuk dapat mengolah lahan gambut.
 
 
"Biasanya sabut kelapa hanya menjadi limbah dan busuk, dibiarkan begitu saja. Dengan biopeat lahan gambut bisa jadi subur dan ditanami sayur dan buah," katanya.
 
 
Seorang petani lokal, Ramli mengatakan bahwa  dengan biopeat ini dia tidak perlu membakar lahan untuk mencari abu agar gambut bisa ditanami. 
 
 
Bahkan diakui, lahan yang dikelola olehnya sudah ditanami dengan sayur mayur, seperti bawang, jagung, terong dan lainnya. 
 
 
"Sudah panen semua. Hasil panen nya pun sudah laku dijual ke sekitar Riau. Pembeli datang sendiri katanya. Sayur pun bagus hasil biopeat ini," bangganya.
 
 
Lebih lanjut Direktur PT RSUP, Tay Ciatung mengatakan pihaknya terus melakukan inovasi-inovasi baru, agar industrinya terus mumpuni. Inovasi Biopeat digunakan untuk memberdayakan masyarakat dalam memanfaatkan lahan gambut.
 

"Ini kontribusi kami untuk masyarakat, bentuk sosial kami," tutupnya. (Humas/HMP)

Selasa, 23 Agustus 2022

PETANI SUKSES MENAMAN CABAI DI LAHAN GAMBUT

 JawaPos.com- Berbeda dengan petani lain, keputusan Badri mengolah lahan gambut terbilang berani. Saat kebanyakan orang menanam sawit, pria berusia 41 tahun itu sukses bercocok tanam cabai.

Warga Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak, Riau, ini sudah menanam cabai merah selama setahun belakangan. Usahanya tak sia-sia, bahkan ia mendapatkan keuntungan yang terbilang besar dari memelihara tanaman holtikultura ini Berbeda dari sawit, Badri tak perlu menunggu waktu dua minggu untuk memanennya. Cabai yang ditanam dari hasil jerih payahnya ini bisa dipanen setiap tiga atau empat hari sekali.

Dalam sekali panen, Badri pernah mendapat hampir setengah ton cabai merah di lahan seperempat hektare olahannya. “Dikalikan saja, satu kilo harga cabai normal Rp 36 ribu. Waktu itu empat kuintal lebih hasil panen cabainya,” cerita Badri kepada wartawan saat ditemui di Siak, Kamis siang (7/2).

Awal mula Badri memutuskan menanam cabai, banyak petani lain tak percaya dengannya. Namun berkat pengetahuan dari Sekolah Lapang BRG, dia menjadi tahu karekteristik tanah gambut.

“Inti bertani itu tahu karekteristik tanah, kalau gambut misalnya ada yang perlu dilakukan. Namun jangan sampai keasamannya hilang, yang perlu itu keseimbangan,” sebut Badri.

Untuk menanam cabai di lahan gambut tidaklah mudah dan sembarangan. Butuh pengetahuan agar hasilnya bisa memuaskan. Hal penting yang dibutuhkan adalah mengetahui tingkat keasaman pada permukaannya.

Keasaman itu perlu diturunkan dengan cara murah dan bahan mudah didapat. Salah satunya adalah pohon pisang. Hasil cacahan pohon disebar di lahan yang akan ditanam. Tingkat keasaman akan ketahuan, baik diukur dengan memakai alat maupun menanam tanaman lain.

“Dulu saya tanam sawi, kalau sudah hijau berarti tingkat keasaman tidak tinggi lagi. Kalau daunnya masih kuning, berarti masih tinggi, kalau sawinya hijau, barulah bagus, lalu ditanam cabai. Inilah hasilnya, bisa dilihat,” jelasnya.

Kini, ratusan batang cabai di lahan Badri sudah berusia setahun. Dia menyebut sudah saatnya diganti dengan yang baru karena akan menyebabkan biaya lebih besar jika masih dipertahankan.

Menurutnya, pohon cabai berumur setahun masih bisa berproduksi tapi hasilnya tentu saja tidak memuaskan. Apalagi saat musim kemarau. Sebab butuh disemprot ekstra agar buahnya tidak berulat atau mengering.

“Kalau sekarang tinggal diganti karena tanah ini sudah teruji, asamnya sudah tidak tinggi. Hanya perlu membersihkan buah cabai yang jatuh ke tanah agar tak jadi bakteri,” kata Badri.

Sejak keberhasilannya bertanam cabai mulai tersiar, banyak petani yang berdatangan ke lahannya. Mereka ingin belajar bagaimana gambut bisa ditanam cabai tanpa harus membakar dulu. “Tanpa membakar, asamnya bisa dikurangi. Jangan sampai hilang karena kesuburannya juga akan ikut hilang,” tuturnya.

Badri menekankan tanaman holtikultura di gambut lebih menjanjikan daripada sawit maupun tanaman lainnya. Dia sudah membuktikan hal tersebut. Bahkan hasil dari cabai ini membuat dirinya sampai jalan-jalan ke Bangkok, Thailand.

“Ini sangat menjanjikan, potensial. Sudah ada yang belajar, kalau dulu orang belum percaya karena mengganggap saya sebagai petani baru,” tutupnya.


Sumber : Jawapos.com

Editor : Dida Tenola

Reporter : Virda Elisya

Senin, 22 Agustus 2022

LAHAN GAMBUAT PONTENSIAL MENJADI KEBUN KELAPA SAWIT

 JAKARTA. Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Winarna mengungkapkan lahan gambut memiliki potensi yang baik untuk dimanfaatkan bagi pengembangan kelapa sawit.


Dari hasil penelitian diketahui potensi kelapa sawit padai berbagai tipe gambut cukup tinggi antara 12-27 ton ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare pertahun, katanya, di Jakarta, Kamis (15/3).

Sedangkan rata-rata rendemen minyak sawit berkisar antara 21-23 persen atau 2 persen lebih rendah dibandingkan tanah mineral. "Tanaman kelapa sawit juga toleran terhadap sifat-sifat gambut," katanya dalam seminar "Lahan Gambut: Maslahat atau Mudharat?" yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan).

Dikatakannya, saat ini sekitar 20 juta hektar lahan gambut tersebar di Indonesia terutama di Sumatra dan Kalimantan. Dari luasan tersebut, lanjutnya, baru sekitar 700-800 ribu ha  yang dimanfaatkan untuk budidaya kelapa sawit dari total luas perkebunan kelapa sawit Indonesia 7,8 juta ha.

Winarna mengakui, pemanfaatan lahan gambut untuk kelapa sawit memiliki berbagai kendala terkait sifat-sifat gambut yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman.

"Oleh karena itu diperlukan penerapan 'best management practices' untuk pengembangan kelapa sawit di gambut yang berkelanjutan," katanya.

Menurut dia, tata air yang efektif merupakan kunci memperoleh produktivitas kelapa sawit yang tinggi pada lahan gambut. Selain itu, lanjutnya, harus didukung infrastruktur jalan dan jembatan, pemupukan serta kultur teknis standar.

Guru Besar Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultan Pertanian IPB, Prof Dr Supiandi Sabiham menyatakan, optimalisasi pengembangan kebun dan industri minyak sawit pada lahan gambut telah memberikan kesempatan kerja sebanyak satu orang per empat hektare.

Dengan demikian, lanjutnya, dari 1,2 juta hektare perkebunan kelapa sawit mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 300 ribu orang, belum termasuk untuk lapangan pekerjaan penunjangnya.

"Selain itu pengembangan pertanian di lahan gambut telah memberikan sumber pendapatan yang cukup signifikan khususnya dari sayuran dan buah-buahan serta tanaman perkebunan terutama kelapa sawit," katanya.

Dikatakannya, dari luasan lahan gambut sekitar 15 juta hektare sektiar 9 juta hektare sesuai syarat untuk usaha pertanian. Namun demikian, lanjutnya, yang sudah dibuka dan dikembangkan baru sekitar 0,5 juta hektare untuk tanaman pangan yang dikelola petani transmigran serta 1,2 juta hektare untuk perkebunan khususnya kelapa sawit.

DIKUTIP DARI MEDIA INDONESIA, KAMIS, 15 MARET 2012 dan dinas perkebunan provinsi kalimantan timur

Minggu, 21 Agustus 2022

GAMBUT TERTUA DI TEMUKAN DI PEDALAMAN KALIMANTAN

 Sekelompok peneliti menemukan lahan gambut tropis tertua di dunia. Lahan tersebut ditemukan di Pulau Kalimantan, Indonesia. Tepatnya, di sebuah situs pedalaman di utara Kota Putussibau, Kalimantan Barat.

Menurut hasil penanggalan karbon, lahan gambut purba itu setidaknya telah terbentuk sejak 47.800 tahun lalu. Umur ini jauh lebih tua bahkan dua kali lipat lebih tua dari yang tim peneliti perkirakan sebelumnya.

Lahan gambut ini juga memiliki lapisan yang sangat dalam, yakni 18 meter. Itu setara dengan tinggi bangunan enam lantai.

Laporan mengenai temuan ini telah dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah Environmental Research Letters pada akhir 2020 lalu. Penemuan ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari University of Oregon, Amerika Serikat. Peneliti utama dalam riset ini adalah Monika Ruwaimana, mahasiswi doktoral dari University of Oregon yang juga merupakan dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Monika Ruwaimana menjelaskan bahwa dalam penelitian ini timnya mengambil sampel tanah dari dua lokasi daratan dan tiga pantai yang terhubung dengan Sungai Kapuas di provinsi Kalimantan Barat untuk mereka teliti. “Kami mempelajari lahan gambut, sejenis tanah yang terbuat dari bahan organik seperti kayu dan daun,” kata Monika seperti dikutip dari laman resmi University of Oregon.

“Bahan tanaman mati ini terawetkan dengan baik di dalam tanah dan terus menumpuk karena permukaan air yang tinggi mencegah pembusukannya,” jelas Monika. “Biasanya kedalaman lahan gambut hanya beberapa meter, tapi lahan gambut yang kami temukan ini jauh lebih dalam.”

Zaman es atau periode glasial adalah periode ketika suhu bumi turun drastis selama bertahun-tahun atau dalam jangka waktu sangat lama sehingga menyebabkan peningkatan jumlah pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Menurut para ahli, periode glasial terjadi berulang kali dengan diselingi masa-masa yang lebih hangat yang disebut sebagai masa interglasial. Adapun zaman es terakhir adalah priode glasial terakhir yang diperkirakan berlangsung antara 110.000 tahun hingga 10.000 tahun lalu.

Berdasarkan ketebalan lahan gambut yang ditemukan ini, Monika Ruwaimana menyimpulkan bahwa situs Putussiba tidak begitu terganggu oleh deforestasi dan koversi lahan seperti kebanyakan daerah lain di Indonesia.

“Kami pikir lapisan situs Putussibau akan lebih tipis karena orang sudah membangun jalan di atasnya,” ujarnya. “Tapi yang mengejutkan, kami menemukan kedalaman 17 hingga 18 meter. Sebagai perbandingan, rata-rata kedalaman lahan gambut di Indonesia adalah 5 sampai 6 meter."

Sabtu, 20 Agustus 2022

11. JENIS TANAMAN OBAT TRADISIONAL

 1. Daun Kemangi

Salah satu fungsi daun kemangi adalah untuk menetralisir racun yang mungkin saja terbawa pada makanan tersebut terutama makanan yang dibakar. Meskipun mudah dijumpai di rumah makan, kemangi ternyata menjadi jenis tanaman toga yang dapat di tanam di rumah.

Khasiat lain dari kemangi antara lain: memperkuat sistem kekebalan tubuh, menambah stamina pria terutama sel sperma, mencegah kemandulan, sebagai antiseptik alami, memperbaiki fungsi hati, mencegah ejakulasi dini, dan mencegah bau badan.

Selain itu, kemangi dapat memperlancar asi, menurunkan kadar gula darah, mencegah tulang keropos, dan menghilangkan jerawat. Untuk mencegah dan mengobati seperti beberapa gangguan kesehatan yang sudah disebutkan secara efektif adalah dengan mengkonsumsinya menjadi lalapan.

2. Kumis Kucing

Tanaman ini anggota dari suku Lamiaceae. Disebut kumis kucing karena bunganya mirip bulu kucing yang berwarna putih. Tanaman ini wajib ada di halaman rumah kamu sebagai pelengkap jenis tanaman toga. Kenapa demikian? Dari segi manfaatnya tanaman ini bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit asam urat. Hal ini karena kumis kucing mengandung zat orthosiphonin, glikosida, dan diuretik.

Khasiat kumis untuk kesehatan mampu mengobati infeksi ginjal, infeksi kandung kemih, sakit kencing batu, encok, peluruh air seni, menghilangkan panas dan lembab.

Manfaatkan pekarangan kosong semaksimalnya dengan tanaman toga yang punya manfaat besar bagi kesehatan. Pasalnya, suatu saat dipastikan ini akan sangat bermanfaat sekali.

Dengan menggunakan beberapa tanaman toga tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya berobat. Seperti halnya ketika batuk melanda tak perlu pergi berobat cukup pergi ke pekarangan rumah untuk mengambil tanaman dan membuat ramuannya.

3. Jahe

Jahe adalah anggota suku Zingiberaceae. Merupakan tanaman herba semusim, tegak, tinggi 40-50 cm. Ada tiga jenis jahe yaitu gajah, emprit, dan merah. Jahe merupakan komoditas pertanian yang memiliki peluang dan prospek yang cukup baik untuk dikembangkan di Indonesia.Banyak dijajakan di penjual angkringan.

Jahe mengandung minyak atsiri zingiberena, sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan. Khasiatnya untuk mengatasi batuk, membangkitkan nafsu makan, mulas, sakit kepala, dan perut kembung. Melihat manfaatnya yang besar, tentu jahe dapat dijadikan referensi jenis tanaman toga.

4. Jintan Hitam

Tanaman jintan hitam atau seringkali dikenal sebagai habbatussauda mempunyai manfaat yang baik bagi tubuh. Dilansir dari Alodokter, tanaman jintan hitam sangat membantu dalam proses pengobatan diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi hingga mengurangi kemungkinan untuk terserang kanker.

5. Kunyit

Salah satu rempah yang paling sering digunakan untuk bumbu masak ini mempunyai manfaat yang luar biasa bagi tubuh. Kunyit mempunyai kandungan yang bisa mengencerkan darah dan menghancurkan kolesterol yang ada pada tubuh Anda.

6. Kencur

Kencur sangat disukai karena baunya yang khas dan bisa diolah menjadi minuman beras kencur yang sangat menyegarkan. Kencur bisa dimanfaatkan sebagai obat herbal yang ampuh karena bisa meredakan flu dan batuk sekaligus menyegarkan saluran pernapasan Anda

7. Lidah Buaya

Lidah buaya mempunyai rasa yang menyegarkan dan seringkali dicampurkan ke dalam minuman untuk menambah keunikan dari rasa minumannya. Tanaman lidah buaya mempunyai manfaat yang baik untuk kulit dan mampu untuk mencegah penuaan dini. Selain itu juga, tanaman lidah buaya bisa menjadi obat yang tepat bagi para penderita diabetes.

8. Daun Seledri

Apabila Anda mempunyai masalah tekanan darah tinggi maka Anda bisa mengonsumsi daun seledri dengan mencampurkannya pada makanan Anda. Tanaman daun seledri terbukti ampuh dalam menurunkan tekanan darah dan tensi bagi orang yang menderita hipertensi

9. Daun Kelor

Daun kelor merupakan salah satu tanaman herbal yang banyak dipakai sebagai bentuk pengobatan kanker dan mencegah agar Anda tidak mudah untuk terserang penyakit. Daun kelor ini meskipun cukup sulit untuk ditemui namun manfaatnya tidak bisa dibandingkan dengan tanaman herbal yang lainnya.

10.  Alpukat

Buah alpukat mempunyai rasa yang segar dan manis. Selain rasanya yang nikmat, ternyata buah alpukat juga mempunyai banyak manfaat bagi tubuh. Beberapa manfaat dari mengonsumsi buah alpukat secara rutin adalah mampu untuk mencegah penyakit jantung dan bisa mengurangi risiko terserang diabetes.

11. Belimbing

Apabila Anda mempunyai masalah terhadap berat badan maka Anda bisa secara rutin mengonsumsi buah belimbing. Tidak hanya itu saja, buah belimbing juga bisa untuk mengendalikan kadar gula darah dan mencegah penyakit diabetes datang sejak dini

Gambut Menyimpan Beragam Manfaat Bagi Manusia dan Patut Dilestarikan

 Indonesia adalah negara dengan lahan gambut terbesar ke-2 di dunia. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal, apalagi menyayangi, gambut.

Padahal, gambut memiliki manfaat yang luar biasa. Salah satunya adalah kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah banyak. Gambut mampu menampung hingga 30 persen jumlah karbon dunia agar tidak terlepas ke atmosfer.

Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan gambut memiliki fungsi untuk mencegah perubahan iklim, bencana alam, hingga menjadi penunjang perekonomian masyarakat sekitar.

Dr. Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) pun mengajak semua pihak untuk membincangkan gambut dengan sukacita, tanpa perlu mengerutkan kening.

Dia mencontohkan pempek, makanan asal Palembang, Sumatera Selatan, yang berbahan dasar sagu.

Pohon sagu yang tumbuh di lahan gambut dan ikan gabus yang hidup di rawa atau sungai sekitar lahan gambut, ujar Myrna, merupakan kombinasi yang sangat baik dan menghasilkan pempek terlezat.

“Hal ini merupakan contoh sederhana mengapa peduli akan gambut cukup penting, bukan hanya penting bagi masyarakat setempat, tetapi juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan.” tutur Myrna dalam TalkShow Ruang Publik Peluncuran Seri Podcast Gambut Bakisah dan Pentingnya Lahan Gambut Indonesia.

Gambut juga menjadi penting bagi masyarakat yang memanfaatkan ekosistemnya karena dekat dengan perairan seperti sungai, rawa, atau laut, untuk kegiatan perikanan.

Sementara itu, lahan gambut yang tidak tebal dan dianggap relatif lebih subur, menjadi tempat bertani dan menanam tumbuhan jenis holtikutura.

“ Lahan gambut di Indonesia merupakan gambut tropis yang di dalamnya hidup berbagai jenis tanaman dan hewan mulai dari ikan, burung air, dan orang hutan,” kata Myrna.

Padahal, lahan gambut yang rusak dan kering menjadi rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Lantas jika sudah terlanjur terjadi, kebakaran di lahan gambut cukup sulit untuk dipadamkan karena api yang menyala berada di bawah tanah.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penduduk di wilayah lahan gambut itu sendiri. Asap dari karhutla yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan bisa berisiko ke daerah-daerah lain.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan gambut dari berbagai sudut pandang, Lembaga Kemitraan – the Partnership for Governance Reform pun menggelar peluncuran wadah pengetahuan pelestarian lahan gambut melalui serial podcast “Gambut Bakisah” yang diproduksi Kantor Berita Radio (KBR) Prime.

Podcast ini terdiri dari 12 seri episode yang dapat diakses melalui Spotify, KBR Prime, Anchor, dan platform podcast audio lain setiap minggu mulai dari pekan ini.

Hasbi Berliana, Direktur Sustainable Development Governance Lembaga Kemitraan, mengatakan, dalam seri episodenya, podcast ini juga mengangkat kebijakan lahan gambut dan tantangannya di tingkat desa seperti pencegahan karhutla.

“Kisah masyarakat dan inisiatif anak muda serta beragam praktik baik yang dapat menjadi contoh bagi pihak lain pun akan diangkat,” ujarnya.

Sumber : brgm.go.id

https://www.kompas.com/sains/read/2020/09/15/180900723/lestarikan-gambut-manfaatnya-bagi-manusia-begitu-luar-biasa?page=all#page2